mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Mengenal Sosok Chairil Anwar, Penyair dan Sastrawan Terkemuka Indonesia

Mengenal Sosok Chairil Anwar, Penyair dan Sastrawan Terkemuka Indonesia

Mengenal Sosok Chairil Anwar

Siapakah sosok Chairil Anwar itu? Sebagian dari kalian mungkin sudah sangat mengenali beliau, begitupun dengan karya-karyanya yang telah mendunia. Tetapi, Mimin akan sedikit mengulasnya kembali tentang tokoh satu ini yang telah diolah dari berbagai sumber. Nah, bagi kamu yang belum tau siapa beliau, yuk langsung saja baca konten berikut ini agar kamu menjadi tau.

Mengenal Sosok Chairil Anwar

Chairil Anwar merupakan tokoh sastra, penyair, pujangga, dan penulis terkemuka dan juga merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Beliau telah menghasilkan lebih dari 96 karya, termasuk 70 puisi. Salah satu karyanya yang paling terkenal dan mungkin kamu juga pernah membacanya, yakni puisi yang berjudul "Aku". Karena puisi tersebut, beliau mendapat julukan sebagai "Si Binatang Jalang".

1. Masa Kecil Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Kota Medan pada tanggal 26 Juli 1922. Beliau tinggal di Medan bersama kedua orang tuanya yaitu  Toeloes dan Saleha yang berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Beliau adalah sosok anak tunggal dan semasa kecilnya banyak dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Karena hal tersebut, Chairil tumbuh menjadi sosok yang keras kepala.

Charil Anwar bisa dibilang hidup ditengah keluarga yang berkecukupan. Ayah beliau adalah seorang yang memiliki pengaruh yang cukup besar di provinsi Riau. Dimana Sang Ayah pernah menduduki jabatan terakhir sebagai bupati Inderagiri, Riau. Bukan sekadar itu saja, Chairil Anwar juga masih memiliki garis keturunan dengan Soetan Sjahrir, yang notebene merupakan Perdana Menteri pertama Indonesia.

Saat di Medan, Chairil juga sangat dekat dengan neneknya. Chairil dan Neneknya sangat akrab. Dalam hidupnya beliau hampir setiap saat selalu bahagia, jarang merasakan kesedihan. Salah satu kepedihan terhebat yang pernah di rasakan adalah ketika neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan rasa sedih dan duka itu dalam sajak luar biasa pedih yang berjudul "Nisan"

“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta”

Sama seperti Buya Hamka, Chairil Anwar juga pernah mengalami masa-masa pahit menjadi broken home, kedua orangtuanya harus bercerai ketika Chairil masih berusia 19 tahun. Chairil ikut bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang adalah Jakarta). Di kota inilah dan sejak saat itu juga Chairil Anwar mulai mengenali dan menyukai dunia sastra. Ayah Chairil tetap bertanggung jawab dan menafkahinya dan juga ibunya.

2.Pendidikan Chairil Anwar

HIS, via Wikipedia

Chairil Anwar mulai mengenyam ini di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang merupakan sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada zaman penjajahan kolonial Belanda. Beliau kemudian meneruskan studinya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Namun di usianya ke 18 tahun, beliau harus putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Sedari kecil, Chairil Anwar memang berkeinginan untuk menjadi seorang seniman.

Meskipun tak bisa melanjutkan studinya lagi, akan tetapi beliau bisa menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Beliau juga menghabiskan waktunya untuk membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti Rainer Maria Rilke, J. Slaurhoff, Edgar du Perron, W.H. Auden, Archibald MacLeish, dan Hendrik Marsman.

Baca juga : kisah hidup Pramoedya Ananta Toer

3.Karir Chairil Anwar

Karir Chairil Anwar sebagai seorang penyair berawal dari tahun 1942. Ketika itu beliau berhasil membuat puisi yang berjudul "Nisan" di usianya yang menginjak 20 tahun. Karena puisi itu juga, nama Chairil Anwar mulai dikenal dalam dunia sastra Indonesia.

Adapun ciri khas dari puisi karya Chairil Anwar adalah banyak yang bertemakan kematian. Puisi-puisinya juga pernah beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia tetapi tidak pernah diterbitkan hingga tahun 1945.

Namun jauh sebelum itu, beliau pernah mengirimkan puisinya ke majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, namun banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Beliau juga pernah bekerja sebagai penyiar radio Jepang di Jakarta.

4.Karya Chairil Anwar

Puisi karya Chairil Anwar

Sepanjang hidupnya, beliau total menulis 94 karya, termasuk 70 puisi. Namun juga banyak puisinya yang tidak dipublikasikan hingga akhir hayatnya. Semua tulisan beliau baik yang asli, hasil modifikasi, atau yang "diduga" dijiplak, dikompilasi dalam 3 buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Puisi "Aku" dan "Krawang Bekasi" adalah dua karyanya yang paling terkenal.

Berikut ini adalah beberapa daftar karya dari seorang Chairil Anwar :
  • Deru Campur Debu (tahun 1949)
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (tahun 1949)
  • Aku Ini Binatang Jalan (1942-1949)
  • Tiga Menguak Takdir (1950) (puisi ini dibuat bersama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin yang sama-sama pernah dinobatkan oleh Hans Bague Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan juga puisi modern Indonesia).
  • Derai-derai Cemara (tahun 1998)
  • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (tahun 1948), terjemahan karya Andre Gide Penulis asal Prancis.


5.Wafatnya Chairil Anwar

Sumber gambar : Kompasiana

Chairil Anwar hidup dalam waktu yang relatif singkat. Beliau wafat pada usia ke 26 tahun tanggal 28 April 1949 di Jakarta. Tidak diketahui penyebab kematiannya, namun diduga karena penyakit Tuberkulosis. Chairil Anwar yang meninggal di usia yang masih sangat muda ternyata sebelumnya sudah disadari oleh kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw yang pernah menyebutkan :  "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".

Biografi : Buya Hamka, Sastrawan Sumatra Barat

Penutup

Perjalanan hidup seorang Chairil Anwar memang sangatlah singkat, tidak banyak pengalaman yang beliau dapatkan. Namun, kerena tulisannya dan karya-karyanya telah mempengaruhi dunia sastra Indonesia di tanah air. Semoga sedikit kisah  Chairil Anwar ini bisa menginspirasi bagi semua orang. Terima kasih, silakan dibagikan apabila bermanfaat.
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Gemar menulis dan bermimpi menjadi penulis profesional.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!