mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Biografi Sutan Takdir Alisjahbana, Sosok Sastrawan Terkemuka di Tanah Air

Biografi Sutan Takdir Alisjahbana, Sosok Sastrawan Terkemuka di Tanah Air

Biografi Sutan Takdir Alisjahbana

Ayo Berbahasa kembali lagi dan akan membahas biografi Sutan Takdir Alisjahbana. Beliau merupakan salah seorang sastrawan yang sukses pada masanya. Melalui postingan ini, Mimin akan sedikit membahas bagaimana kisah hidup beliau, pendidikan, karir, plus karya-karya beliau yang luar biasa. Berikut adalah kisah selengkapnya :

Biografi Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana (STA) merupakan seorang budayawan, sastrawan, sekaligus seorang ahli tata bahasa Indonesia. Beliau lahir di Mandailing Natal, Sumatra Utara 11 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1984 diusianya yang ke 86 tahun.

Selain sebagai seorang sastrawan yang telah menghasilkan beragam kaya, Sutan Takdir Alisjahbana juga dikenal sebagai pendiri Universitas Nasional di Jakarta. Dimana universitas tersebut menjadi universitas tertua di Jakarta dan tertua kedua di Indonesia.

1. Keluarga Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana lahir masih dari keluarga kerajaan. Ibunya bernama Putri Samiah yang merupakan keturunan Rajo Putih, salah satu raja Kesultanan Indrapura pendiri pendiri Kerajaan Lingga Pura di Natal, Sumatra Utara.

Sementara itu, ayah beliau bernama Raden Alisyahbana yang bergelar Sutan Arbi, yang berprofesi sebagai seorang guru. Dari ibunya, STA masih memiliki hubungan kerabat dengan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama di Indonesia.

Sutan Takdir Alisjahbana memiliki tiga orang istri dan dikaruniai 9 orang anak. Raden Ajeng Rohani Daha adalah istri pertamanya yang beliau nikahi pada tahun 1929 dan wafat pada tahun 1935. Sedangkan istri kedua dan ketiga masing-masing bernama Raden Roro Sugiarti dan Dr. Margaret Axer.

Dari istri pertama, Sutan Takdir Alisjahbana dikaruniai tiga orang anak yakni Samiati Alisjahbana, Iskandar Alisjahbana, dan Sofyan Alisjahbana. Dari istri kedua, mempunyai dua orang anak yaitu Mirta Alisjahbana dan Sri Artaria Alisjahbana. Dan dari istri terakhirnya, beliau memiliki 4 orang anak, yaitu Tamalia Alisjahbana, Marita Alisjahbana, Marga Alisjahbana, dan Mario Alisjahbana

Baca juga : Biografi Tokoh Cerpenis Indonesia

2. Pendidikan Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana pertama kali menempuh pendidikan formal dan dasar di HIS Bengkulu. Setelah tamat dari HIS, beliau langsung melanjutkan studinya ke Kweekschool di Bukittinggi. Namun sempat berpindah-pindah ke Lahat dan Muaraenim.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Kweekschool, Sutan langsung melanjutkan sekolahnya ke Hogere Kweekschool (HKS) Bandung yang merupakan sekolah pendidikan guru pada tahun 1925 - 1928. Dan di tahun 1931, kembali beliau mengikuti pendidikan guru tepatnya di di Hoofdacte Cursus Jakarta, dan lulus pada tahun 1933.

Selanjutnya, perjalanan Sutan Takdir Alisjahbana dalam menempuh pendidikan tinggi pada tahun 1937 dengan mengikuti kuliah di Sekolah Hakim Tinggi (Rechtshcogeschool) dan lulus tahun 1942. Namun di tahun 1940, beliau juga sempat mengikuti perkuliahan di Fakultas Sastra, Universiteit van Indonesie, program studi Ilmu Bahasa Umum, Filsafat Asia Timur dan lulus tahun 1942.

Tak berhenti sampai disitu saja, pada tahun 1979 Sutan Takdir Alisjahbana mendapat gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Bahasa dari Universitas Indonesia. Selang 8 tahun kemudian, tepatnya tahun 1987 beliau kembali mendapat gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universiti Sains Malaysia.

Biografi Penyair : WS Rendra

3. Karir Sutan Takdir Alisjahbana

Perjalanan karir seorang Sutan Takdir Alisjahbana begitu panjang dan beraneka ragam. Terutama di bidang bahasa, seni, dan sastra. Pada tahun 1930 hingga 1933, beliau pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka. Selanjutnya mendirikan dan memimpin majalah Poedjangga Baroe (1933-1942 dan 1948-1953).

Tahun 1942 hingga 1945 beliau berprofesi sebagai penulis ahli dan anggota Komisi Bahasa Indonesia di Jakarta. Dan 1945 - 1950 beliau menjabat Ketua Komisi Bahasa Indonesia. Beliau juga pernah menjadi dosen di Universitas Indonesia pada tahun 1946-1948. Kemudian 15 Oktober 1949 beliau mendirikan Universitas Nasional dan langsung menjadi rektor di Universitas tersebut.

Bukan hanya itu saja, Sutan Takdir Alisjahbana juga pernah aktif di dunia politik dan beberapa kali masuk ke legislatif. Beliau pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Konstituante (1950-1960), dan anggota Komite Nasional Indonesia.

Menarik : Kisah Marah Rusli + Karya Siti Nurbaya yang Melegenda

4. Karya Sutan Takdir Alisjahbana

Sepanjang hidupnya, Sutan telah menerbitkan banyak sekali karya sastra mulai dari novel, puisi, cerpen, esai, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun 2 karyanya yang paling terkenal adalah novel Layar Terkembang dan Dian yang Tak Kunjung Padam. Kedua novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka. Berikut ini beberapa daftar karya ciptaaan Sutan Takdir Alisjahbana :

  • Novel Tak Putus Dirundung Malang (1929)
  • Kumpulan Sajak Tebaran Mega (1935)
  • Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
  • Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
  • Pembimbing ke Filsafat (1946)
  • Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
  • Kumpulan Esai Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977)
  • Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dengan begitu banyaknya karya yang telah beliau ciptakan, wajar saja jika Sutan Takdir Alisjahbana masuk dalam salah satu Sastrawan terbaik pada masanya. Penghargaan yang diterimanya pun juga tak sedikit dan semoga kita bisa mengambil sisi positif dari perjalanan hidup beliau. Jangan lupa bagikan konten tentang biografi Sutan Takdir Alisjahbana kepada yang lainnya apabila dirasa bermanfaat. Terima kasih.
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Gemar menulis dan bermimpi menjadi penulis profesional.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Post a Comment