mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Pengertian dan Contoh Pragmatik [Lengkap]

Pengertian dan Contoh Pragmatik [Lengkap]

contoh pragmatik

Walaupun tidak banyak bentuknya dalam bahasa Indonesia, tetap ada beberapa contoh pragmatik yang mungkin kamu dengar dalam percakapan sehari-hari.

Khususnya ketika sedang berbicara dengan orang dalam situasi tertentu dimana konteks situasi saja sudah cukup untuk membuat lawan bicara mengerti apa yang kita maksud.

Pragmatik umumnya lebih banyak digunakan dalam bahasa yang punya struktur lebih singkat, misalnya bahasa Jepang yang mana subjek dalam kalimat sering dihilangkan.

Tetapi dengan mengerti konteks dari kalimatnya, kita bisa mengerti arti dari kalimat tersebut walaupun susunan SPOK-nya tidak lengkap.

Selain itu, pragmatik juga digunakan untuk memahami hubungan antara penutur dan lawan bicara, serta membuktikan bahwa bahasa adalah bukan hanya sekedar susunan kata menjadi kalimat, melainkan sebuah alat untuk berinteraksi sosial bagi manusia.

Lalu sebenarnya, apa sih pragmatik itu?

 

Pengertian Pragmatik Menurut Para Ahli

Para ahli punya pendapat yang berbeda-beda ketika menjelaskan apa pengertian pragmatik, di antaranya yang paling terkenal adalah dari:

 

Charles W. Morris (1938)

Pragrmatik adalah sebuah studi mengenai hubungan antara signs seperti bahasa, isyarat, kata, atau kalimat, dengan intrepreter alias penutur. Dalam dunia modern, pragmatic diartikan secara luas sebagai sebuah studi bahasa berdasarkan konteksnya.

Sebagai catatan sampingan, Charles W. Morris adalah ahli linguistik pertama yang punya pandangan awal tentang pragmatic dan terus mengembangkannya hingga elemen dari bahasa ini menjadi sebuah kajian dalam dunia ilmu bahasa.

 

George Yule (1996)

Menutur George Yule, pragmatik adalah sebuah studi terhadap arti dari penutur dan studi tentang bagaimana manusia memahami dan membuat sebuah tindakan komunikatif di situasi tertentu melalui conversation analisys.

Pengertian George Yule tentang pragmatik kemudian disederhanakan sebagai sebuah contextual meaning atau pengertian sebuah kalimat berdasarkan konteksnya.

 

Levinson (1983)

Pragmatik menurut Levinson diartikan sebagai sebagai ilmu lingusitik yang berkaitan dengan penggunaan bahasa.

 

Laaksonen (2019)

Berdasarkan Laaksonen yang mengutip dari pengertikan pragmatik oleh Yule, dapat diartikan bahwa pragmatik merupakan sebuah studi tentang arti tidak terlihat dalam sebuah kalimat yang bisa dipahami oleh lawan bicara. Padahal kata yang dimaksudkan tidak diucapkan maupun ditulis.

Laaksonen juga melanjutkan bahwa praktek ini berkaitan dengan asumsi, dimana lawan bicara mengandalkan sangkaan yang sudah penutur bagikan selama berbicara.

 

Harahap (2019)

Menurut Harahap, pragmatik merupakan sebuah ilmu linguistik mirip semantik, bedanya semantik memperlakukan makna menjadi hubungan 2 segi, sedangkan pragmatik melibatkan 3 segi.

Contoh pragmatik yang dimaksudkan oleh Harahap kemudian dijelaskan dalam kalimat seperti berikut

"Tipe kamar yang Anda inginkan sudah penuh"

Dalam terjemahan sederhana, orang yang mengatakan kalimat tersebut sekedar memberi informasi bahwa tipe kamar yang diinginkan sudah tidak ada yang kosong.

Tapi dengan ilmu pragmatik, dapat ditarik kesimpulan baru berdasarkan konteks bahwa resepsionis meminta lawan bicara untuk memilih tipe kamar yang lain.

 

Aspek Pragmatik

Sebelum membahas tentang contoh pragmatik dan menggunakannya dalam sebuah percakapan, kita perlu tahu dulu 2 aspek pragmatik, yaitu:

  • Tindak tutur
  • Kesopanan

 

Tindak Tutur

Yang pertama adalah tindak tutur atau tujuan yang dimaksud ketika bertutur.

Dengan memahami tindak tutur sebuah kalimat atau ucapan, kita dapat mengetahui apa yang dimaksud penutur berdasarkan terkaan konteks atau situasinya.

Tindak tutur bisa dibagi lagi menjadi 5 jenis, yaitu:

  • Representatif, yaitu tindak tutur dengan tujuan memberi tahu informasi kepada lawan bicara
  • Direktif, yaitu tindak tutur yang bertujuan untuk memerintah atau meminta lawan bicara melakukan tindakan tertentu
  • Komisif, yaitu tuturan dengan maksud mengikat penutur untuk melakukan tindakan di masa depan, contohnya berjanji melakukan sesuatu
  • Ekspresif, yaitu tindak tutur yang tujuannya untuk mengekspresikan sesuatu, umumnya rasa menyesal atau minta maaf
  • Deklaratif, yaitu tutur yang bertujuan untuk mempertegas atau mengganti hal baru, misalnya memaafkan lawan bicara yang awalnya dikesali, melarang lawan bicara melakukan sesuatu yang awalnya diizinkan, atau sebaliknya.

 

Kesopanan

Kesopanan adalah aspek pragmatik paling penting yang akan menentukan apakah lawan bicara akan mengerti atau tidak maksud dari tutur ucapan kita.

Selain itu, mengabaikan aspek kesopanan juga bisa memicu konfilk dan rasa tidak suka dalam pikiran lawan bicara ketika mendengar tutur yang kita sampaikan.

Sebab bisa saja maksud pragmatik yang kita ucapkan dianggap sebagai sindiran atau sarkasme, mengingat pragmatik mengandalkan asumsi ketika berkomunikasi.

Oleh karena itu, Harahap (2018) menjelaskan 6 unsur kesopanan ketika bertutur, yaitu:

  1. Tact Maxim
  2. Generosity Maxim
  3. Modesty Maxim
  4. Approbation Maxim
  5. Agreement Maxim
  6. Sympathy Maxim

Tanpa memahami pengertian dari keenam maksim kesopanan di atas pun, manusia sudah tahu batasan kesopanan dalam bertutur sebagai common sense.

 

Contoh Pragmatik dalam Tutur Sehari-hari

Setelah tahu pengertian dan aspek dalam pragmatik, sekarang waktunya kita contoh pragmatik dan pelajari maksudnya berdasarkan konteks atau tindak tutur kalimat tersebut.

 

"Kami harus memberhentikan saudara dari perusahaan ini."

Contoh pragmatik pertama ini memiliki tindak tutur deklaratif, dimana penutur menegaskan bahwa lawan bicara mulai dari hari ini berhenti jadi bagian dari perusahaan tersebut.

Berdasarkan konteks situasinya, bisa disimpulkan bahwa kalimat tersebut berarti penutur memecat lawan bicara.

Dari aspek kesopanan, kalimat tersebut menggunakan aspek tact maxim dan sympathy maxim, sebab pemilihan kata oleh penutur dibuat untuk menimilasir konflik dan rasa tidak enak antara penutur dan lawan bicara.

Jika diucapkan dengan mengabaikan aspek kesopanan, bisa saja penutur mengatakan "Pergi dari sini!".

 

"Kami akan cek bersama staff housekeeping."

Yang berikutnya merupakan contoh pragmatik dengan tindak tutur komisif, dimana penutur berjanji akan melakukan sesuatu di masa depan kepada lawan bicara.

Sebagai bentuk pragmatik, penutur tidak perlu mengucapkan objek apa yang akan dicek karena lawan bicara pasti akan mengerti berdasarkan konteks pertama yang ia ceritakan sebelumnya.

Selain itu, contoh ini juga masih memperhatikan aspek kesopanan dalam berucap.

Sebab penutur bisa mengatakan "Nanti kami cek" dengan menghilangkan subjek dan objek dalam kalimat dan tetap memiliki arti yang sama. Tapi kalimat tersebut terdengar tidak sopan.

 

"Sepanjang jalan tidak bergerak."

Contoh yang terakhir adalah bentuk pragmatik ekspresif, yang mana hanya bisa diketahui berdasarkan konteks cara berucap atau situasi.

Jika diucapkan dengan nada menyesal, tutur tersebut akan mengekspresikan permintaan maaf penutur kepada lawan bicara.

Kata "tidak bergerak" juga merupakan bentuk yang menjelaskan bahwa penutur tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah tersebut.

Sebab kondisi macet bisa jadi bukan kesalahan dari penutur, tapi karena situasi jalan pada saat itu yang memang tidak mendukung.

Dalam contoh lain, tindak ekspresif dalam pragmatik juga bisa diartikan bahwa penutur mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya.

 

Seperti itulah contoh pragmatik beserta pengertian dan aspeknya.

Dibandingkan mempelajari pragmatik secara teori, ternyata jauh lebih gampang kalau kita mempraktekannya langsung.

Karena pastinya tanpa sadar kamu pernah mendengar atau menggunakan bentuk tutur pragmatik dan langsung mengerti maksud dari tutur tersebut berdasarkan konteksnya.

Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Freelance, Content Writer, Bloger, dan Kontributor di beberapa media.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar