mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Biografi Amir Hamzah, Tokoh Sastra Berjuluk Raja Penyair Pujangga Baru

Biografi Amir Hamzah, Tokoh Sastra Berjuluk Raja Penyair Pujangga Baru

Biografi Amir Hamzah

Siapakah Amir Hamzah itu ? Apakah kamu pernah mendengar sosok nama tersebut ? Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai biografi Amir Hamzah. Yang dikenal sebagai seorang Sastrawan yang memiliki nama asli Tengkoe Amir Hamzah. Bagaimana kisah dan perjalanan beliau? Berikut adalah ulasannya

Biografi Amir Hamzah

Amir Hamzah, merupakan seorang sastrawan Indonesia yang terkenal sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”. Beliau lahir dalam lingkungan bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam sastra dan kebudayaan Melayu. Beliau lahir pada 28 Februari 1911, di Binjai, Langkat, Sumatra Utara.

1. Masa Kecil Amir Hamzah

Tengku Muhammad Adil, adalah ayah dari Amir Hamzah yang mempunyai gelar Datuk Paduka Raja. Ayahnya merupakan Wakil Sultan untuk Luhak Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai. Ibunya bernama Tengku Mahjiwa. Amir hamzah bersaudara 11 orang.

Keluarga besar itu amat taat menjalankan ajaran Islam. Berdasarkan silsilah keluarga istana Kesultanan Langkat, Amir Hamzah merupakan generasi ke-10 dari Sultan Langkat.

Amir Hamzah menghabiskan masa kecil di kampung halamnnya. Oleh teman sepermainannya, Amir kecil biasa dipanggil dengan sebutan Tengku Busu atau “tengku yang bungsu”. Sahabat Amir, Hoesny berkata bahwa di masa kecilnya Amir Hamzah adalah anak manis yang menjadi kesayanga semua orang.


2. Pendidikan Amir Hamzah

Amir Hamzah mulai mengenyam bangku sekolah sejak berumur 5 tahun, yakni Langkatsche School di Tanjung Pura tahun 1916. Sebagian besar guru di Langkatsche School adalah orang Belanda, hanya ada satu orang saja guru Melayu. Setelah menamatkan studi disana selama 7 tahun, Amir Hamzah melanjutkan ke MULO di Medan.

Setahun kemudian, tahun 1924 Amir Hamzah pindah ke Batavia, melanjutkan sekolahnya di Christelijk MULO Menjangan. Beliau lulus dari sekolah itu tahun 1927. Kemudian, dari sana beliau meneruskan ke AMS di Solo, Jawa Tengah, dan mengambil program studi Sastra Timur.

Di Solo, Amir Hamzah tinggal di kompleks asrama kediaman KRT Wreksodiningrat yang terletak di samping istana Kasunanan Surakarta. Kemudian Amir tinggal bersama keluarga RT Sutijo Hadinegoro di Nggabel. Setelah menyelesaikan sekolah di Solo, Amir Hamzah kembali ke Batavia guna melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Hakim pada awal tahun 1934.

Di masa-masa inilah beliau memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain. Selama di Pulau Jawa, amir Hamzah juga banyak bergaul dengan tokoh pergerakan asal Jawa seperti Mr.Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodi.

Ibu Amir Hamzah meninggal dunia pada tahun 1931, sedangkan ayahnya meninggal dunia pada tahun 1933. Tetapi, Amir Hamzah masih dapat melanjutkan studinya dengan bantuan pamannya, yakni Sultan Mahmud, yang menjadi Sultan Langkat.

Kisah Sastrawan : Pramoedya Ananta Toer.

3. Karir Amir Hamzah

Amir Hamzah bekerja pertama kali sebagai guru di Perguruan Rakyat (bagian dari Taman Siswa) Jakarta. Namun, Amir Hamzah mulai mengasah karir dan minatnya pada sastra dan kepenyairan semenjak tinggal di Solo. Disana beliau berteman dengan Amijn Pane dan Achdiat K. Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo.

Di kota itu pula Amir Hamzah mulai menulis beberapa puisi pertamanya. Sajaknya yang berjudul “Mabuk” dan “Sunyi” dimuat dalam majalah Timbul Asuhan Sanusi Pane. Beberapa sastrawan yang hidup semasa dengan Amir Hamzah yakni ; Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, Mohammad Yamin, Soeman Hs, JE Tatengkeng, dan H.B Jassin.

Amir Hamzah bersama dengan sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, mendirikan majalah Pujangga Baru tahun 1993. Majalah tersebut kemudian oleh H.B Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru.

Kisah penyair : Chairil Anwar.

4. Karya Amir Hamzah

Amir Hamzah mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan. Jumlah keseluruhan karya itu adalah 160 tulisan. Dua karya Amir Hamzah yang paling terkenal adalah kumpulan sajak Nyanyi Sunyi (1973) dan Buah Rindu (1941).

Dalam Buah Rindu, yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935, terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Amir Hamzah juga pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1993), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar.

Dalam kumpulan sajah Buah Rindu tahun 1941, terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga  menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.

Di tangan Amir Hamzah, bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.
Puisi-puisi Amir Hamzah sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam.

Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu.

Karya puisinya pada awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, sedangkan karya-karya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Koleksi Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Amir mendapat gelar “Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe”, dan termasuk satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra Revolusi Nasional Indonesia.


5. Wafatnya Amir Hamzah

Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal Indonesia merdeka. Pemuda Sosialis Indonesia menangkapi sekitar 21 tokoh feodal termasuk di antaranya Amir Hamzah, pada tanggal 7 Maret 1946. Pada 20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkapi itu dijatuhi hukuman mati.

Amir wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Masjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Beliau meninggalkan seorang istri, Tengku Kamaliah, dan seorang putri, Tengku Tahura. Kemudian Amir Hamzah diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 3 November 1975, berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/tahun 1975.

Biografi Tokoh Lainnya : WS Rendra.

Demikianlah biografi Amir Hamzah. Semoga dengan adanya rangkuman ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan kita bersama. Terima kasih dan semoga bermanfaat.
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Gemar menulis dan bermimpi menjadi penulis profesional.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Post a Comment