mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Biografi Usmar Ismail, Sastrawan Pelopor Perfilman Indonesia

Biografi Usmar Ismail, Sastrawan Pelopor Perfilman Indonesia

Biografi Usmar Ismail

Biografi Usmar Ismail akan kita bahas pada konten berikut ini. Beliau dikenal sebagai sosok sastrawan sekaligus sutradara film yang berdarah Minangkabau. Dijuluki sebagai Bapak perfilman Indonesia, berikut kisah dari tokoh sastra ini yang telah diolah dari berbagai sumber :

Biografi Usmar Ismail

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921 dan meninggal pada tanggal 2 Januari 1971 di usianya yang mendekati 50 tahun. Usmar Ismail dikenal sebagai sutradara, produser film, dan penulis yang aktif dalam kurun waktu 1950 - 1970. Darah dan Doa (1950), dikenaI sebagai film nasional pertama yang beliau sutradarai.

Ayahnya bernama Datuk Tumenggung Ismail yang merupakan seorang guru sekolah kedokteran di Padang. Sedangkan ibunya bernama Siti Fatimah. Beliau juga memiliki seorang kakak bernama Dr. Abu Hanifah yang bernama pena El Hakim.

Riwayat Pendidikan

Usmar Ismail memulai pendidikannya dengan bersekolah di HIS Bukittinggi. Setelah itu, beliau melanjutkan studinya di MULO (SMP) Simpang Haru, Padang. Ketika SMP, bakatnya di bidang sastra sudah mulai terlihat.

Saat itu, Usmar bersama teman-temannya, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang. Beliau berencana akan menyajikan suatu pertunjukan dengan penampilan yang unik, gagah  dan juga mengesankan.

Beliau berencana hadir di acara tersebut bersama teman-temannya dengan menyewa perahu serta pakaian bajak laut. Namun sayang seribu sayang, rencana itu batal terwujud karena mereka baru sampai ketika matahari tenggelam akibat kelelahan.

Kegagalan itu dianggap Rosihan Anwar (teman Usmar Ismail) sebagai tanda bahwa Usmar memang punya bakat sebagai seorang sutradara. Usmar dianggap mempunyai daya khayal dan mampu untuk menyajikan tontonan yang menarik.

Setelah lulus dari MULO, Usmar Ismail dan Rosihan Anwar merantau ke Pulau Jawa, tepatnya ke Yogyakarta. Di sana, Usmar melanjutkan pendidikannya ke AMS-A (Algemene Middlebare School) II jurusan Klasik Timur.

Saat SMA, Usmar semakin banyak terlibat dalam dunia sastra. Beliau memperdalam pengetahuan drama dan turut serta dalam pementasan drama di sekolahnya. Beliau juga mulai mengirimkan karya-karyanya ke berbagai majalah.

Di samping itu, masa sekolah Usmar di Yogyakarta juga terganggu dengan datangnya tentara Jepang di Indonesia. Beliau akhirnya mengantongi ijazah darurat dan pergi ke Jakarta dan tinggal bersama kakaknya, Dr. Abu Hanifah. Setelah tamat dari AMS, beliau melanjutkan lagi studinya ke University of California di Los Angeles, Amerika Serikat.


Karir

Usmar Ismail pernah bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang) bersama Armijn Pane serta budayawan lainnya untuk mementaskan drama. Usmar dibayar honor sejumlah 5 rupiah.

Pada tahun 1943, Usmar Ismail bersama kakaknya, El Hakim, serta Cornel Simanjuntak, Rosihan Anwar, serta H.B. Jassin mendirikan kelompok sandiwara yang diberi nama "Maya". Mereka mementaskan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat.

Hal tersebut dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia. Beberapa sandiwara yang dipentaskan Maya, diantaranya yaitu, “Taufan di Atas Asia (El Hakim)”, "Liburan Seniman (Usmar Ismail)”,  “Mutiara dari Nusa Laut (Usmar Ismail)”, dan “Mekar Melati (Usmar Ismail)”.

Setelah Indonesia merdeka, beliau menjalani dinas militer dan aktif sebagai jurnalis di Jakarta. Beliau kedua temannya, Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, mendirikan surat kabar "Rakyat". Selepas itu, beliau mendirikan harian Patriot dan bulanan Arena di Yogyakarta.

Ketika menjadi wartawan berita Antara, Usmar Ismail pernah dimasukkan ke penjara oleh Belanda karena dianggap terlibat dalam kegiatan subversi. Saat itu, beliau meliput perundingan Belanda-RI di Jakarta pada tahun 1948.

Selanjutnya, Umar Ismail lebih memfokuskan diri ke dunia perfilman. Anjar Anjasmara adalah seseorang yang menawarkannya menjadi asisten sutradara untuk film "Gadis Desa". Selanjutnya, Usmar menggarap film "Citra" dan "Harta Karun".

Beliau juga pernah mendirikan Perfini (Pusat Film Nasional Indonesia) pada 30 Maret 1950 dan memulai shooting pertama filmnya, yakni Darah dan Doa di Purwakarta. Dengan adanya film tersebut, maka tanggal 30 Maret kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Karya

Film Usmar Ismail, Darah dan Doa
Film darah dan doa, gambar via Wikipedia
Usmar Ismail adalah seorang sutradara, karena hal itulah banyak karya film yang berhasil beliau ciptakan. Beberapa film yang beliau ciptakan antara lain : “Darah dan Doa” (1950), “Dosa Tak Berampun” (1951), “Enam jam di Yogya” (1951), “Kafedo” (1953), “Krisis” (1953), “Lewat Jam malam” (1954), “Tiga Dara” (1955), dan “Pejuang” (1960).

Tak sekadar itu saja, Usmar Ismail juga pernah membuat beberapa drama seperti Mutiara dari Nusa Laut (1943), Mekar Melati (1945), serta Sedih dan Gembira (1950). Tak cukup sampai disitu, beliau juga menciptakan puisi yang berjudul "Puntung Berasap" pada tahun 1950.


Penghargaan

Pada tahun 1962, Usmar pernah mendapatkan piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno. Selepas itu, di tahun 1969 beliau kembali mendapatkan penghargaan kali ini berupa "Anugerah Seni" dari Pemerintah Indonesia. Usmar Ismail Hall merupakan tempat pertunjukan musik dan teater yang diambil langsung dari nama beliau.

Wafat

Usmar Ismail tutup usia pada tanggal 2 Januari 1971 dengan kisah kematian yang cukup tragis. Bahkan terjadi di usia yang masih terbilang muda, 49 tahun. Pada tahun 1970, Usmar Ismail, yang saat itu menjabat sebagai direktur Perfini bekerja sama dengan perusahaan di Italia membuat film "Adventures in Bali".

Namun, proses produksi dan setelah film tersebut jadi ternyata bermasalah. Menurut perjanjian, seharusnya nama beliau sebagai sutradara akan dicantumkan dalam versi film yang ditayangkan di Eropa. Dan yang terjadi, nama Usmar Ismail tidak dicantumkan di sana.

Namun pada akhirnya, film tersebut tetap dirilis dengan judul Bali pada 1971, tetapi gagal mendapatkan banyak penonton. Di tengah kesulitan itu, Usmar masih terus berjuang mempertahankan Perfini serta menggaji karyawannya. Tak lama setelah itu, Usmar jatuh sakit di rumahnya akibat pendarahan di otaknya.

Beliau akhirnya meninggal dan dimakamkan di TMP Karet Bivak. Guna mengenang jasanya, diabdikanlah namanya di sebuah gedung perfilman, yakni Pusat Perfilman Usmar Ismail yang berlokasi di daerah Kuningan, Jakarta.

Biografi sutradara lainnya : Asrul Sani

Itulah sedikit rangkuman perjalanan hidup dari seorang Usmar Ismail. Jasanya begitu besar di dunia perfilman tanah air. Jasanya yang begitu besar di bidang Perfilman membuat namanya dikenang dalam salah satu ajang penghargaan bagi insan perfilman Indonesia, yaitu Usmar Ismail Awards.

Semoga dari kisah tersebut, kita bisa memetik pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekian, terima kasih telah membaca konten "Biografi Usmar Ismail" hingga selesai.
Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Dengan menulis, ada banyak hal yang bisa kita bagikan

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

2 komentar

  1. bapak usmar ismail dimana karyanya selalu jadi sejarah perfilman di indonesia. mudah-mudahan film-film di indonesia semakin maju dan mendidik bagi generasi bangsa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentar yang sesuai dengan postingan dan tidak mengandung unsur negatif pasti akan disetujui oleh admin :)

Maaf, tidak diperkenankan berkomentar menggunakan atau mengandung tautan aktif