mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Penggunaan Tanda Penyingkat yang Benar [Penjelasan Lengkap]

Penggunaan Tanda Penyingkat yang Benar [Penjelasan Lengkap]

Penggunaan tanda penyingkat

Kembali lagi dengan Ayo Berbahasa, kali ini saya akan menjelaskan tentang penggunaan tanda penyingkat yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Memang dalam menulis kita perlu mematuhi kaidah ejaan yang berlaku agar tulisan yang kita hasilkan bisa lebih baik lagi, termasuk soal tanda baca.

Meski terlihat mudah, namun pada kenyataannya masih banyak siswa siswi bahkan hingga mahasiswa yang salah dalam menulis dengan baik dan benar. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah salah dalam menggunakan tanda baca.

Ada banyak jenis tanda baca dan masing-masing memiliki fungsi dan penerapan yang juga berbeda-beda. Khusus kali ini, Ayo Berbahasa akan menjelaskan seputar tanda baca penyingkat beserta bagaimana penggunaannya. Mari simak materi ini hingga selesai.

Apa Itu Tanda Penyingkat?

Tanda penyingkat memiliki sebutan lain yaitu apostrof. Tanda baca yang satu ini mirip seperti penutup tanda petik tunggal dan simbol prima, walaupun punya fungsi yang berbeda.

Tanda penyingkat atau apostrof ini ada pada bahasa yang memakai alfabet latin ataupun alfabet tertentu lainnya. Apostrof sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah "peniadaan bunyi dalam ucapan"

Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tanda penyingkat adalah tanda baca yang dipakai untuk menunjukkan bahwa ada huruf atau angka yang dihilangkan. Tanda baca yang satu ini dilambangkan dengan (')

Fungsi Tanda Penyingkat

Tanda baca yang satu ini memiliki satu fungsi utama yaitu menghilangkan bagian kata atau angka dalam sebuah tulisan atau kalimat. Bagian kata yang hilang itu bisa berupa kata apa saja, sementara bagian angka yang hilang biasanya berupa tahun.

Penggunaan Tanda Penyingkat (Apostrof) dan Contohnya

Penggunaan tanda penyingkat (apostrof)

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, apostrof digunakan untuk menghilangkan bagian kata atau bagian  tahun dalam konteks tertentu. Dan bagian yang hilang tersebut memiliki makna lain yang memang disembunyikan. Beberapa contoh penggunaannya dalam kalimat yaitu :
  • Dia 'kan kusurati (artinya : dia akan kusurati).
  • Mereka sudah tiba 'kan? (artinya : mereka sudah tiba bukan?).
  • Ayah 'lum pulang sejak kemarin sore (artinya : ayah belum pulang sejak kemarin sore).
  • Senja 'lah tiba (artinya : senja telah tiba).
  • 'Stelah kau pergi, diriku merasa kesepian (artinya : setelah kau pergi, diriku merasa kesepian).
  • Reformasi terjadi pada tahun '98 (artinya : reformasi terjadi pada tahun 1998).
  • Aku lahir pada tanggal 9 Februari '99 (artinya : aku lahir pada tanggal 9 Februari 1999).
  • Aku ingin hidup bersamamu 'slamanya (artinya : aku ingin hidup bersamamu selamanya).
  • Jangan paksa aku untuk menjadi 'sperti yang kau mau (artinya : jangan paksa aku untuk menjadi seperti yang kau mau).
  • Dalam upacara bendera, Adi ditugaskan sebagai pembaca Pembukaan Undang-Undang Dasar '45 (artinya : dalam upacara bendera, Adi ditugaskan sebagai pembaca Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945).
  • Ia tiba di Bandung pada tanggal 7 Januari '12 (artinya : ia tiba di Bandung pada tanggal 7 Januari 2012).
  • Pak Budi telah menetap di Surabaya sejak tahun ’87 (artinya : Pak Budi telah menetap di Surabaya sejak tahun 1987).
  • Dengan ini saya mengucapkan ‘trima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya acara seminar pada hari ini (artinya : Dengan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya acara seminar pada hari ini).
  • Adik mendapatkan hadiah 'speda baru dari ayah (artinya : adik mendapatkan hadiah sepeda baru dari ayah).
  • Dalam pementasan teater tersebut, Ayu berperan ‘sbagai seorang putri kerajaan (artinya : dalam pementasan teater tersebut, Ayu berperan sebagai seorang putri kerajaan).
  • Kami ‘slaku pihak perusahaan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh salah satu karyawan di perusahaan kami (artinya : kami selaku pihak perusahaan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh salah satu karyawan di perusahaan kami).


Demikianlah pembahasan mengenai penggunaan tanda penyingkat (apostrof) yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada materi ayo berbahasa selanjutnya.
Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Dengan menulis, ada banyak hal yang bisa kita bagikan

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar