mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Alur Anti Klimaks dan Penjelasannya [Lengkap]

Alur Anti Klimaks dan Penjelasannya [Lengkap]

alur anti klimaks

Bagi yang belum tahu, menulis cerita dengan alur anti klimaks mungkin terdengar membosankan. Memang benar penulisan anti klimaks seringkali dikaitkan dengan novel yang tidak seru, film yang tidak jelas tujuannya, atau cerpen tanpa konflik yang jelas.

Walaupun begitu, alur penulisan ini juga bisa dimanfaatkan untuk membuat narasi yang menarik bahkan mengejutkan bagi para pembaca maupun penonton.

Bahkan anti klimaks atau anti climatic adalah salah satu teknik penulisan yang wajib dipelajari oleh setiap sastrawan.

 

Apa Itu Anti Klimaks?

Sebenarnya ada dua jenis pengertian anti klimaks dalam Bahasa Indonesia.

Jika dilihat dari sudut pandang majas, anti klimaks artinya penyampaian sesuatu secara turun-menurun. Setiap turunan dari penyampaian tersebut ukurannya jadi lebih kecil dan lebih kecil lagi.

Misalnya dalam mengucap sapaan pembuka dalam pidato, kita bisa membaca "Para guru, para staff, para orang tua murif yang hadir dalam pertemuan hari ini". Artinya, majas anti klimaks di atas diurutkan berdasarkan tingkat kepentingan peran yang disebutkan.

Arti anti klimaks dalam penulisan pun agak mirip.

Kita tahu di setiap cerita selalu ada bagian klimaks, yaitu puncak konflik sekaligus bagian paling menarik dalam cerita tersebut. Setelah itu, cerita berlanjut ke bagian anti klimaks, yaitu ketika tingkat ketegangan berangsur-angsur menurun hingga bagian penutupan.

Sedangkan secara definisi, kata "antiklimaks" bisa diartikan sebagai sebuah momen yang membuat seseorang merasa terkejut sekaligus kecewa. Sebagai contoh dalam cerita romansa, dimana karakter pria dan wanita sudah dikembangkan agar penonton menebak cerita tersebut berakhir dengan happy ending, namun akhirnya kedua tokoh tidak menyatakan perasaannya satu sama lain.

 

Pengertian Alur Anti Klimaks

Nah, pengertian alur anti klimaks adalah teknik penulisan cerita dimana tidak ada klimaks di dalam narasinya. Baik itu karena bagian klimaks sudah tuliskan di awal atau bahkan prolog cerita, atau karena memang tidak ada bagian klimaks sama sekali dalam cerita tersebut.

Cerita anti climatic seringkali dianggap sebagai cerita yang tidak seru. Sebab dalam menonton film, membaca novel, atau menikmati karya naratif lainnya, setiap orang pasti menunggu bagian klimaks dari karya tersebut.

Jika bagian klimaks dihilangkan, maka tidak ada alasan lagi bagi penonton untuk melanjutkan cerita tersebut.

Walaupun begitu, kita bisa menggunakan teknik anti climatic untuk membuat plot twist, cerita yang lebih santai, dan masih banyak lagi.

 

Contoh Alur Anti Klimaks

Ada dua jenis penulisan anti klimaks yang sering digunakan dalam cerita naratif, yaitu:

 

Cerita yang Dibuka dengan Klimaks

Contoh cerita dengan alur anti klimaks pertama adalah narasi yang diawali dengan bagian klimaks. Umumnya narasi seperti ini digunakan dalam penulisan novel lanjutan atau spin off, dimana alur cerita hanya akan membahas peristiwa setelah melewati bagian klimaks.

Contoh cerita dengan alur seperti ini bisa kita lihat dalam serial Cek Toko Sebelah The Series. Karena berlatar waktu di masa depan setelah cerita utamanya selesai, maka serial ini hanya membahas kejadian setelah klimaks berakhir.

Memang di setiap episode terdapat bagian klimaks tersendiri. Namun jika dilihat secara lebih luas, tidak ada bagian klimaks di episode Cek Toko Sebelah the Series manapun yang melebihi cerita utamanya.

 

Cerita Tanpa Klimaks Sama Sekali

Selanjutnya adalah cerita yang tidak memiliki klimaks sama sekali, baik itu karena sengaja maupun tidak disengaja.

Contoh cerita tanpa klimaks yang memang sengaja ditulis seperti itu bisa kita lihat dalam narasi film Zero Dark Thirty. Singkatnya dalam narasi tersebut dituliskan bagaimana perasaan sang tokoh utama yang tidak merasa puas padahal sudah mencapai ambisi yang ia kejar bertahun-tahun.

Perasaan kosong hasil gambaran sang penulis adalah teknik penggunaan alur anti klimaks terbaik sekaligus tersulit yang perlu kita pelajari.

Sedangkan contoh cerita anti climatic tidak disengaja adalah narasi-narasi yang seringkali dianggap orang jelek atau tidak berkualitas.

 

Apakah Penulisan Anti Klimaks Selalu Membosankan?

Tadi sudah dijelaskan bahwa pengertian anti klimaks adalah perasaan kecewa sekaligus terkejut akibat sesuatu tidak berjalan sesuai yang kita perkirakan.

Ketika tokoh pasangan di dalam cerita tidak berakhir happy ending, maka akan menimbulkan perasaan anti climatic. Ketika misteri yang dipecahkan oleh seorang detektif ternyata belum berakhir, juga akan timbul perasaan anti climatic.

Tapi penulisan cerita anti klimaks yang baik adalah yang menimbulkan perasaan lain selain kecewa. Bisa itu perasaan terhibur karena menggunakan momen anti climatic sebagai lelucon, perasaan hampa, atau bahkan perasaan sedih.

 

Genre Cerita yang Cocok untuk Menggunakan Alur Anti Klimaks

Harus diakui, tidak semua genre cerita cocok menggunalan alur anti klimaks. Beberapa bahkan akan berakhir mengecewakan bagi penonton karena ending yang berbanding terbalik dengan harapan.

Oleh karena itu jika kita mau mencoba teknik penulisan anti climatic, berikut ini adalah genre yang bisa kita terapkan.

 

1. Komedi

Kunci utama dalam penulisan cerita komedi adalah memasukan punchline yang bersifat kejutan. Salah satu cara menulis punchline yang sifatnya mengejutkan sendiri adalah dengan teknik penulisan anti klimatik.

Penulisan ini pernah digunakan oleh Charlie Chaplin dalam membuat sebuah video narasi komedi singkat.

Dalam buku "The Moon’s A Balloon" dijelaskan bahwa Chalie Chaplin dan Charles MacArthur membuat sebuah narasi dimana seorang wanita gemuk sedang mengupas pisang sambil berjalan. Kemudian di tengah jalan, terdapat kulit pisang yang akan terinjak oleh sang wanita dan membuatnya terpeleset.

Namun bukannya menginjak kulit pisang, sang wanita gemuk malah jatuh ke lubang manhole di depannya.

Penulisan screenwriting tersebut dikategorikan sebagai anti climatic karena penonton mengharapkan sang wanita gemuk jatuh karena menginjak kulit pisang, sedangkan dalam narasinya sang wanita malah jatuh ke lubang.

Elemen kejutan antara lubang manhole dan kulit pisang inilah yang membuat timbulnya perasan terhibur di hati penonton padahal klimaks dalam narasi tidak sesuai bayangannya.

 

2. Human Drama

Human drama adalah sub-genre dari drama, dimana konflik di dalamnya tidak berhubungan dengan percintaan atau romansa.

Cerita bergenre human drama sangat dekat dengan kehidupan masyarakat asli, sehingga kita bisa memasukan elemen anti climatic di dalamnya tanpa membuat penonton merasa kecewa.

Kita bahkan bisa melakukan observasi di peristiwa sehari-hari yang sifatnya anti climatic untuk membangun sebuah cerita. Contohnya ketika sudah membuat rencana liburan ke luar negeri, namun ternyata semua harus digagalkan karena Covid menyerang.

Peristiwa anti climatic yang dekat dengan kehidupan seharih-hari ini bisa membuat pembaca merasa relate dan simpati terhadap tokoh dalam cerita.

 

Dalam dunia seni ada ungkapan "lLearn the rules then break them". Artinya walaupun ada aturan alur anti klimaks hanya bisa digunakan dalam narasi bergenre tertentu.

Tidak ada yang melarang kita untuk bereksperimen sendiri dan memasukan teknik serupa dalam genre di luar aturan tersebut.

Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Freelance, Content Writer, Bloger, dan Kontributor di beberapa media.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar