mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
22+ Contoh Bidal dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

22+ Contoh Bidal dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

Contoh bidal dan artinya

Tahukah kamu apa saja contoh bidal? Pada kesempatan kali ini, Ayo Berbahasa akan membahas seputar hal tersebut. Selain pepatah, perumpamaan, dan juga tamsil, bidal juga merupakan salah satu jenis dari peribahasa.

Bidal juga dapat digolongkan ke dalam jenis puisi karena memiliki arti lugas, Rima, dan juga irama. Selain itu, bidal juga termasuk dalam hal sastra Melayu lama yang berisi peringatan, nasihat, sindiran, dan sejenisnya.

Definisi Bidal

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diterangkan bahwa bidal merupakan jenis puisi lama dalam bentuk peribahasa yang termasuk sastra Melayu lama yang kebanyakan berisi sindiran, nasihat, peringatan, dan sejenisnya.

Baca juga : pengertian pantun.

Ciri-ciri Bidal

Peribahasa Bidal mengandung beberapa ciri - ciri yakni sebagai berikut :

  • Bidal merupakan kalimat singkat dengan makna konotasi atau figurative.
  • Bidal dibuat sebagai bentuk sindiran, ibarat, atau perbandingan guna mengungkapkan pikiran atau perasaan pembuat secara tidak langsung.
  • Bidal memiliki tujuan menyindir, menangkis atau menyanggah kejadian atau situasi tertentu.

Baca juga : ciri-ciri poster.

Contoh Bidal dan Artinya

Setelah mengetahui tentang pengertian dan ciri bidal, berikut ini saya sampaikan beberapa contoh bidal dan juga artinya. Apa saja itu?

  1. Jika kail panjang sejengkal, lautan dalam jangan juga (jika belum mempunyai banyak ilmu atau pengalaman jangan mencoba berlawanan dengan orang pandai).
  2. Adat periuk berkerak, adat berlesung berdekak (bila seseorang ingin mendapatkan keuntungan dari suatu pekerjaan, hendaknya dia menanggung kesusahan).
  3. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung (segala sesuatu ada tata caranya).
  4. Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusi (selalu memikirkan urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan).
  5. Terlajak perahu boleh diundur, terlajak kata buruk padahnya (berhati-hatilah dalam berucap karena bisa saja menyinggung orang lain). 
  6. Sesat di hulu jalan, balik ke pangkal jalan (jika sudah menyadari kesalahan yang telah dilakukan, hendaknya segera kembali ke jalan yang benar).
  7. Jikalau beranak, ikuti kata bidan (menurutlah kepada orang yang lebih ahli daripada kita).
  8. Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah (perbuatan hendaknya mengingat aturan adat dan agama).
  9. Adat diisi, lembaga dituang (sebaiknya segala sesuatu dilakukan menurut kebiasaan).
  10. Bagai kerakap tumbuh di atas batu, hidup enggan mati tak mau (hidup dalam kesusahan terus menerus).
  11. Di dalam manis ada pahitnya, di dalam pahit ada manisnya (perkataan manis terkadang mengandung tipuan, perkataan pahit terkadang juga mengandung nasihat).
  12. Ada budi ada talas, ada budi ada balas (setiap perbuatan baik ada ganjarannya, setiap perbuatan jahat ada balasannya). 
  13. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlewati (melakukan sekali pekerjaan, beberapa hal bisa tercapai).
  14. Dangkal telah ke seberang, dalam telah ajuk (sudah tau maksud dan tujuan seseorang).
  15. Empang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit (sudah tidak dapat didamaikan lagi).
  16. Enggan seribu daya, mau sepatah kata (kalau tidak suka terhadap sesuatu, biasanya banyak cakapnya). 
  17. Esa hilang, dua terbilang (berusaha terus dengan keras hati hingga keinginan tercapai).
  18. Berbilang dari esa, mengaji dari alif (mengerjakan sesuatu hendaknya dari awal/permulaan).
  19. Besar kayu besar bahannya, (banyak penghasilan, banyak pula belanjanya).
  20. Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau (segala usaha hendaknya sampai kepada maksudnya).
  21. Pagar makan tanaman (orang yang merusak barang yang diamanatkan kepadanya).
  22. Besar pasak daripada tiang (belanja lebih besar daripada pendapatan).
  23. Ombak kecil jangan diabaikan (hal-hal kecil jangan disepelekan).
  24. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi (ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tak akan berfaedah).
  25. Murah dimulut, mahal ditimbangan (banyak janji, namun tidak ditepati).

Materi lainnya : pengertian, ciri, dan struktur tajuk rencana.

Itulah sedikit penjelasan tentang definisi, ciri, dan contoh bidal semoga bermanfaat dan bila ada pertanyaan mari sampaikan di kolom komentar. Terima kasih, jangan lupa bagikan konten ini jika dirasa bermanfaat.
Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Dengan menulis, ada banyak hal yang bisa kita bagikan

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

3 komentar

  1. "Blog boleh keren tapi loading juga harus keren"

    Contoh diatas itu juga termasuk bidal gak mas.? . karena blog keren biasanya lemot diakses. Dan kata kata diatas juga sedikit menyinggung.. . heheh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan mas, karena bukan termasuk sastra melayu lama.

      Hapus
    2. Selain itu, kalimat diatas mengandung makna denotasi bukan konotasi

      Hapus

Posting Komentar

Komentar yang sesuai dengan postingan dan tidak mengandung unsur negatif pasti akan disetujui oleh admin :)

Maaf, tidak diperkenankan berkomentar menggunakan atau mengandung tautan aktif