mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Apa Itu Rumpun Bahasa dan Penuturnya [Lengkap]

Apa Itu Rumpun Bahasa dan Penuturnya [Lengkap]

Apa itu rumpun bahasa

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai rumpun bahasa. Tahukah kamu apa rumpun bahasa dan apa saja bahasa yang termasuk rumpun itu?

Mari simak penjelasan selengkapnya pada konten berikut ini.

 

Apa Itu Rumpun Bahasa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rumpun adalah orang-orang yang seketurunan sama nenek moyangnya. Sedangkan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Dengan begitu, rumpun bahasa bisa diartikan sebagai sekumpulan bahasa-bahasa yang memiliki perintis yang sama yakni bahasa purba dari rumpun tersebut.

Bahasa-bahasa tersebut saling memiliki hubungan yang dibuktikan dengan karakteristik bahasa-bahasa tersebut. Dan bahasa-bahasa yang ada di dunia ini sebagian besar merupakan anggota rumpun bahasa, jadi bukan bahasa asli.

Ahli bahasa telah mengidentifikasi ada sekitar 135 rumpun bahasa yang masih ada saat ini, sedangkan 12 rumpun bahasa telah dinyatakan punah.


Baca juga : apa itu bahasa ibu?

 

Dari Mana Rumpun Bahasa Berasal?

Bahasa-bahasa yang digunakan oleh manusia berasal dari berbagai rumpun, lalu apakah rumpun-rumpun tersebut berasal dari satu kelompok yang lebih besar?

Pertanyaan tersebut memang sering ditanyakan kepada guru atau dosen ketika sedang belajar masalah perbedaan linguistik. Karena memang rumpun bahasa berasal dari satu kelompok bahasa yang lebih besar lagi, namanya bahasa purba.

Jika kamu ingat pelajaran sejarah di SMP & SMA, umat manusia melewati masa pra-aksara sebelum mengenal tulisan. Pada masa itu, manusia purba berkomunikasi dengan bahasa purba yang bentuk atau cara jelasnya belum diketahui hingga saat ini karena tiap era pra aksara memiliki bukti sejarah yang sedikit.

Rumpun bahasa baru bisa diteliti secara jelas ketika manusia sudah mulai mengenal aksara. Salah satu yang pertama kali ditemukan adalah rumpun Roman. Dari sanalah baru ditemukan rumpun-rumpun lain dari berbagai daerah yang diciptakan oleh berbagai ras di seluruh dunia.

 

Rumpun Bahasa dengan Penutur Terbanyak

Sementara itu, rumpun bahasa yang memiliki penutur paling banyak di dunia adalah sebagai berikut :

 

Indo-Eropa

Rumpun bahasa Indo-Eropa merupakan yang paling banyak penutur. Jumlahnya sekitar 2,910 miliar dan mewakili hampir setengah dari populasi global.

Istilah Indo-Eropa pertama kali diciptakan oleh Thomas Young, seorang polymath dan ahli bahasa yang berhasil menerjemahkan hieroglyph Mesir, pada tahun 1813.

Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Rusia adalah beberapa contoh bahasa yang termasuk ke dalam rumpun Indo-Eropa. Bahkan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Nusantara pada jaman kerajaan, yaitu Bahasa Sansakerta, memiliki banyak kosa kata yang berasal dari rumpun Indo-Eropa.

Untuk lebih lengkapnya, berikut ini adalah bahasa yang paling banyak digunakan dari rumpun Indo-Eropa.

  • Albania
  • Armenia
  • Keltik
  • Jermanik
  • Helenik (bahasa Yunani)
  • Italik & bahasa Roman

Indo-Eropa juga memiliki beberapa bahasa yang kini sudah punah dan tidak pernah terdengar lagi. Misalnya bahasa Anatolia yang dulu digunakan di daerah Asia Barat, dan Tokharia yang memiliki kemiripan dengan bahasa Jerman atau Keltik.

 

Afroasiatik

Bila Indo-Eropa adalah rumpun dengan pengguna paling banyak di dunia, Afroasiatik adalah salah satu dari 10 rumpun yang menghasilkan bahasa paling banyak di seluruh dunia. Tercatat ada lebih dari 300 bahasa yang tercipta dari rumpun ini, dengan lebih dari 285 juta orang penutur.

Sesuai dengan namanya, rumpun Afroasiatik banyak tersebar di Benua Afrika. Beberapa daerah di sekitarnya seperti bagian Asia Barat Daya juga menggunakan rumpun yang sama.

Afroasiatik atau Afro-Asia pertama kali diperkenalkan pada tahun 1914 oleh seorang ahli etnografi dari Perancis bernama Maurice Delafosse. Sebelum disebut Afro-Asia, rumpun ini memiliki nama Hamit-Semit, yang mana ditolak oleh ahli bahasa karena namanya tidak berhubungan dengan istilah linguistik maupun geografis apapun.

Rumpun Afroasiatik memiliki sub bagian bahasa seperti berikut.

  • Semit
  • Kush
  • Chad
  • Berber
  • Mesir
  • Omotik

Khusus untuk bahasa Omotik, keterkaitannya dengan rumpun Afroasiatik masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli.

 

Austronesia

Rumpun bahasa Austronesia adalah rumpun yang digunakan oleh masyarakat di bagian selatan dunia. Istilah Austronesia sendiri diambil dari 2 kosa kata Yunani dan Latin, yaitu "australia" yang artinya pulau atau kepulauan di selatan dan "nesos" yang artinya pulau.

Kamu semua pasti sering mendengar rumpun Austronesia, sebab bahasa Indonesia adalah salah satu bagian dari rumpun ini.

Bisa dibilang, hampir semua bahasa yang digunakan di Asia Tenggara termasuk ke dalam Austronesia, misalnya:

  • Rukai (Dipakai di Taiwan)
  • Indonesia
  • Malaysia
  • Thailand
  • Singapura
  • Brunei Darussalam
  • Pulau Natal
  • Kepulauan Cocos

Pengguna bahasa Melayu Austronesia juga ditemukan di daerah pesisir Sri Lanka, Madagaskar, dan Suriname.

 

Niger-Congo

Niger-Congo merupakan rumpun bahasa dengan jumlah bahasa paling banyak. Tercatat sekitar 21% bahasa yang ada di dunia merupakan satu rumpun dari Niger-Congo. Meskipun begitu, kamu mungkin tidak banyak mendengar orang yang menggunakan bahasa dari rumpun ini karena Niger-Congo umumnya hanya tersebar di daerah Afrika.

Saking banyaknya bahasa dari rumpun ini, ahli linguistik sampai kesulitan membedakan antara bahasa utama dengan bahasa dialek. Karena bahasa utamanya sendiri mencapai 1.542 bahasa dengan berbagai macam dialek di setiap bahasa dari tiap daerah.

Bahasa utama yang paling banyak digunakan dari rumpun Niger-Congo adalah sebagai berikut.

  • Fula (Afrika Barat dan Afrika Tengah)
  • Shona (Zimbabwe)
  • Hausa (Nigeria)
  • Zulu (Afrika Selatan)
  • Yoruba (Ghana, Kuba, Sierra Leone, & Nigeria)
  • Igbo (Nigeria

 

Sino-Tibetan

Rumpun bahasa Sino-Tibetan juga termasuk salah satu rumpun yang menyumbang banyak kosa kata ke Bahasa Indonesia. Sebab bahasa China digunakan oleh banyak saudagar ketika berdagang ke Nusantara pada zaman dulu.

Rumpun Sino-Tibetan sendiri tersebar di sepanjang daerah Asia Timur, Asia Selatan, dan beberapa negara di Asia Tenggara. Tercatat ada lebih dari 400 bahasa yang terlahir dari rumpun ini. Itulah mengapa, hampir semua negara di Asia Timur dan Asia Tenggara seperti China, Tibet, Taiwan, Myanmar (dulu bernama Burma), Makau, dan Mongolia, memiliki tutur bahasa yang terdengar mirip.

Sino-Tibetan terbentuk dari campuran bahasa China, Tibet, dan Burma. Istilah ini pertama kali dikenal di awal abad ke-19.

Dari 400 bahasa, ada sekitar 40 bahasa utama yang menjadi induk dari bahasa-bahasa daerah tersebut. Beberapa di antaranya adalah:

  • Sinitic
  • Lolo-Burmese
  • Tibetic
  • Karenic
  • Bodo-Garo
  • Kuki-Chin
  • Meitei
  • Tamangic
  • Bai
  • Jingpho-Lush

Penutur bahasa Sino-Tibetan juga sangat banyak. Masyarakat asli China sendiri jumlahnya hampir mencapai 1,3 miliar orang. Ditambah lagi dengan sekitar 33 juta penutur bahasa Burma dari Myanmar, 6 juta pengguna bahasa Tibetic, dan masyarakat lokal asli Himalaya yang menggunakan bahasa serupa.

 

Japonik

Rumpun bahasa yang satu ini agak unik. Tidak seperti rumpun yang lain, Japonik adalah rumpun yang lahir dan hanya digunakan di Jepang saja. Tetapi layaknya di Indonesia, ada banyak dialek dan bahasa daerah yang lahir dari rumpun Japonik.

Masyarakat awam banyak yang menganggap bahwa bahasa Jepang merupakan satu rumpun dengan bahasa China sebab mereka memiliki huruf yang mirip ketika menulis. Memang hampir semua huruf yang digunakan oleh orang Jepang, yaitu Kanji, berasal dari China. Tapi ternyata, keduanya memiliki rumpun bahasa yang berbeda.

Keterkaitan antara rumpun Japonik dengan rumpun Sino-Tibetan dan Koreanic (rumpun bahasa Korea) memang masih menjadi perdebatan di kalangan ahli linguistik.

Ditemukan beberapa bukti bahwa penggunaan rumpun Japonik sudah digunakan di Pulau Jeju, Korea, sebelum abad ke-15. Namun semuanya masih berupa hipotesis yang belum diterima secara umum.

Dalam rumpun Japonik sendiri, terdapat 2 induk bahasa yang kemudian dibagi menjadi beberapa dialek dan bahasa daerah, yaitu bahasa Jepang dan bahasa Ryukyu.

Bahasa yang lahir dari bahasa Jepang adalah seperti berikut.

  • Dialek Jepang Daratan (Hondo Hogen)
  • Bahasa Hachijou

Sedangkan bahasa ang lahir dari bahasa Ryukyu ada banyak, beberapa yang paling terkenal adalah:

  • Bahasa Kunigami
  • Bahasa Okinawa
  • Bahasa Amami
  • Bahasa Miyako
  • Bahasa Yaeyama
  • Bahasa Yonaguni

Penggunaan bahasa Ryukyu ini sudah sangat jarang, kecuali oleh orang-orang asli di daerah masing-masing. Sehingga bahasa Ryukyu mulai digolongkan ke dalam bahasa yang hampir punah.


Nah, seperti itulah penjelasan mengenai rumpun bahasa dan jenis-jenisnya yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Perbedaan bahasa ini lah yang menjadi tantangan agar manusia bisa saling menerima satu sama lain dari manapun asal mereka dan bahasa apapun yang mereka ucapkan.

Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Freelance, Content Writer, Bloger, dan Kontributor di beberapa media.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar