mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
4 Jenis Penulisan Tokoh Antagonis Beserta Contohnya [Lengkap]

4 Jenis Penulisan Tokoh Antagonis Beserta Contohnya [Lengkap]

Tokoh antagonis

Menulis tokoh antagonis tidak bisa dilakukan sembarangan. Walaupun kita sudah membuat tokoh tersebut terlihat kejam, jahat, dan tidak bermoral, kualitas penulisannya tetap tidak akan bisa dibilang bagus jika tidak bisa menyampaikan pesan kepada pembaca.

Justru, antagonis yang baik adalah antagonis yang terasa dekat dengan pembaca, sehingga mereka bisa ikut membenci tokoh tersebut bersama-sama.

Bagaimana cara menulis tokoh seperti itu? Mari kita pelajari bersama pada pertemuan hari ini.

 

Apa Itu Tokoh Antagonis?

apa itu tokoh antagonis
Ilustrasi tokoh antagonis

Tokoh antagonis bukan hanya tokoh jahat atau kejam. Justru secara bahasa, antagonis adalah orang atau karakter yang punya tujuan, cara berpikir, visi, dan opini berlawanan dengan protagonis.

Ada dua jenis penulisan antagonis yang paling sering kita temui dalam sebuah cerita, yaitu:

  • Protagonis ingin mencapai tujuan tertentu dan antagonis mencegahnya
  • Antagonis ingin mencapai tujuan tertentu dan progragonis ingin mencegahnya

Jika jelaskan seperti di atas, kita jadi bisa memahaminya dengan lebih mudah.

 

Tujuan Tokoh Antagonis dalam Sebuah Cerita

Kenapa harus ada tokoh antagonis dalam sebuah cerita? Bukankah akan lebih menyenangkan jika di dalam cerita tidak ada karakter yang membuat kesal?

Karakter antagonis memang bukan unsur fundamental dalam sebuah cerita. Namun nyatanya, memasukan unsur antagonis pada tokoh tertentu bisa membuat cerita lebih relate dengan pembaca.

Sebab dalam hidup setiap orang, pasti ada satu atau dua kenalan mereka yang tidak disukai, punya jalan pikir berbeda, atau sejenisnya.

Dalam sebuah penulisan cerita, unsur-unsur kecil ini bisa dikembangkan agar memunculkan konflik sebagai benang merah alur kisah. Pengembangkan konflik kecil di dunia nyata dilakukan dengan teknik penulisan hiperbola, sehingga konflik terasa menarik namun tidak jauh dengan kejadian yang bisa terjadi di dunia nyata.

 

Perbedaan Tokoh Protagonis, Antagonis, dan Tritagonis

Beberapa dari kalian mungkin juga ada yang pernah mendengar tentang tokoh tritagonis. Bisa dibilang, tritagonis merupakan campuran antara karakter antagonis dan protagonis.

Dalam kebanyakan karya naratif, tokoh tritagonis punya peran sebagai penengah dari konflik yang dialami oleh protagonis dan antagonis. Jadi bisa dibilang tritagonis adalah tokoh netral yang tidak memihak ke manapun.

Adapula istilah deuteragonis, yaitu tokoh protagonis kedua. Fungsi dari deuteragonis adalah sebagai pendamping protagonis, bahkan punya misi dan tujuan yang sejalan dengan protagonis.  

Namun porsi penulisan tokoh deuteragonis lebih sedikit dibandingkan protagonis.

 

4 Jenis Penokohan Antagonis

penokohan antagonis

Seperti yang sudah dikatakan tadi, tokoh antagonis tidak selalu orang jahat. Artinya karakter dengan sifat baik pun bisa dikategorikan sebagai antagonis bila punya tujuan berlawanan dengan protagonis.

Selain itu, tokoh antagonis tidak selalu kejam layaknya penjahat yang sering digambarkan dalam film.

Ketika kita ingin menulis cerita dengan genre romance, tentunya kita tidak bisa memasukan figure penjahat, kriminal, atau monster di dalam cerita tersebut. Oleh karena itulah kita perlu memanfaatkan 4 jenis penokohan antagonis di bawah ini.

 

Penjahat (Villain)

Ketika mendengar kata antagonis, yang ada di pikiran kita semua adalah tokoh villain alias penjahat. Villain merupakan tokoh jahat yang sering kali muncul dalam cerita narasi bergenre super hero, aksi, dan semacamnya.

Villain hanya akan dikategorikan sebagai karakter antagonis bila ia muncul dalam cerita dengan tujuan mencegah protagonis mencapai tujuannya.

Kita bisa lihat contoh figur villain dalam cerita Peter Pan, dimana Kapten Hook selalu ingin menggagalkan rencana Peter.

 

Conflict Creator

Dalam cerita bergenre drama, tokoh antagonis akan diganti dengan sebutan conflict creator alias pembuat konflik.

Antagonis jenis ini bukanlah tokoh yang bertindak jahat atau melakukan kejahatan. Justru, figur conflict creator adalah tokoh dengan sisi baik layaknya manusia biasa, namun tetap dikategorikan sebagai antagonis karena punya tujuan berlawanan dengan protagonis.

Contoh conflict creator bisa kita temukan pada cerita Legenda Candi Prambanan.

Pada cerita tersebut, Pangeran Bandung Bondowoso hanyalah pangeran yang ingin menikahi Roro Jonggrang. Ia bukanlah pangeran jahat yang menyerang kerajaan ayah dari Roro Jonggrang untuk menikahi sang putri.

Namun karena perbedaan tujuan antara Roro Jonggrang dan Pangeran Bandung Bondowoso, munculah konflik dimana Roro Jonggrang tidak ingin dipaksa menikah.

Inilah yang disebut dengan conflict creator alias tokoh yang memunculkan konflik dalam cerita.

 

Alam (Inanimate Force)

Unsur antagonis di dalam sebuah penokohan tidak selamanya harus berwujud manusia atau lawan main dari sang protagonis. Sebab, konflik juga bisa muncul antara protagonis dengan objek tidak berwujud, baik itu alam, sosial, lingkungan, dan lain-lain.

Contoh inanimate force sebagai antagonis bisa kita lihat dalam cerita Life of Pi.

Cerita tersebut mengisahkan tentang seorang anak kecil yang mencoba bertahan hidup di tengah laut dengan bermodalkan perahu kecil bersama seekor macan.

Dalam Life of Pi, tokoh utamanya bukan mengalami konflik dengan sang macan, melainkan dengan kondisi laut, ombak, dan angin yang memunculkan masalah untuk ia hadapi.

Contoh lain bisa kita lihat dalam cerita anak Jungle Book.

Tidak Tarzan, dimana figur antagonisnya digambarkan dengan jelas berupa sang pemburu, tokoh antagonis dalam Jungle Book digambarkan sebagai seluruh lingkungan di dalam hutan. 

Kita memang bisa melihat tokoh-tokoh bergambar seperti macan panther yang menyerang tokoh utama. Namun sang panther adalah bagian kecil dari seluruh lingkungan hutan yang tidak setuju dengan keberadaan protagonis.

 

Sang Protagonis itu Sendiri

Terakhir, protagonis itu sendiri juga bisa menjadi figure antagonis dalam sebuah cerita. Kalian bisa melihat contoh penokohan seperti ini dalam buku biografi atau buku dengan genre human drama.

Antagonis yang berasal dari protagonis bukanlah perubahan karakter dari baik ke jahat. Melainkan konflik yang terjadi dalam cerita tersebut diciptakan oleh sang protagonis dan harus dihadapi oleh dirinya sendiri.

Kita bisa melihat penulisan seperti ini dalam buku No Longer Human. Pada buku tersebut, kelemahan, rasa cemas, dan kekurangan dari sang protagonis lah yang menjadi konflik utama pada cerita.

 

Tips Penulisan Tokoh Antagonis yang Baik

Tokoh antagonis yang baik adalah mereka yang bisa membuat pembaca merasa empati. Pada jenis antagonis villain sekalipun, akan terasa lebih bagus bila sang pembaca mengerti kenapa sang antagonis bertindak demikian.

Artinya ketika menulis tokoh antagonis, kita perlu memberi sedikit kebaikan, pengertian, dan penjelasan tentang masa lalu karakternya. Dengan membuat pembaca paham akan latar belakang kehidupan sang antagonis, ia tidak akan gelap mata membenci tokoh tersebut.

Jika kita tidak paham mengapa karakter Pennywise menakut-nakuti anak kecil, maka novel IT akan jauh lebih sulit dinikmati dibandingkan bagaimana cara Stephen King menulisnya.

 

Ternyata, menulis tokoh antagonis yang baik sama sulitnya dengan menulis tokoh protagonis. Namun dengan banyak latihan dan sering membaca karya orang lain, kita bisa mengumpulkan pengalaman, referensi, dan gaya penulisan untuk diterapkan ke karya buatan sendiri di masa depan.

Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Freelance, Content Writer, Bloger, dan Kontributor di beberapa media.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar

close