mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Latar Suasana : Pengertian dan Cara Menulisnya [Lengkap]

Latar Suasana : Pengertian dan Cara Menulisnya [Lengkap]

latar-suasana

Pernahkah kalian merasa sedih ketika membaca sebuah novel bergenre romansa? Atau merasa takut, gelisah, dan merinding waktu membaca novel horor? Semua perasaan tersebut muncul berkat penggambaran latar suasana yang bagus.

Suasana atau atmosphere adalah salah satu cara seorang penulis membangun dunia yang terasa realistis hanya lewat kata-kata. Kalau kita pikir sejenak, selama membaca buku kita hanya melihat sekumpulan kalimat saja. Tapi kalimat-kalimat tersebut bisa membuat kita merasakan seolah-olah berada di dunia fiksi.

Bagaimana cara para penulis membuat kita bisa merasakan suasana tersebut? Mari pelajari bersama dalam artikel ini.

 

Pengertian Latar Suasana

pengertian latar suasana

Latar suasana, atmosphere, ambience, atau mood adalah hal yang sama dalam dunia literatur. Baik itu cerita pendek, novel, sajak, maupun puisi, semua karya tersebut pasti ditulis untuk membangun sebuah suasana tertentu.

Ada banyak jenis suasana yang bisa kita tuangkan ke dalam sebuah tulisan. Mulai dari marah, menggebu-gebu, senang, sedih, gelisah, tenang, dan masih banyak lagi. Satu karya tulis pun bisa dibuat dengan terdiri dari satu suasana atau lebih.

Meskipun begitu, semakin pendek sebuah karya tulis biasanya atmosphere di dalamnya pun semakin terbatas. Sebab latar suasana digunakan untuk menjaga agar pembaca bisa tetap meresapi karya tersebut tanpa merasa bosan.

Bila dalam satu karya cerpen terdiri dari banyak latar suasana, maka pembaca tidak akan bisa mendalami pesan utama dari cerita tersebut. Sedangkan bila karya yang panjang seperti novel hanya punya satu atau dua mood, maka pembaca akan merasa bosan karena alur tidak akan terasa realistis.

 

Cara Menulis Latar suasana dalam 5 Langkah

cara-menulis-latar-suasana

Kita semua pasti sudah pernah belajar tentang apa itu latar suasana. Jadi kita tidak perlu membahas sisi tersebut terlalu dalam.

Oleh sebab itu, mari kita langsung bahas bagaimana cara menggambarkan sebuah latar suasana di dalam cerita lewat kata-kata.

 

Tulis Apa yang Dirasakan Secara Fisik, bukan Secara Deskripsi

Coba kalian baca salah satu novel favorit masing-masing. Kemudian, cari bagian dimana kalian merasa paling emosional. Baik itu merasa marah, sedih, atau takut.

Perhatikan apakah sang penulis menyebutkan kata-kata tentang emosi yang mau disampaikan. Misalnya "Dia merasa sedih karena perkataannya", atau "Aku merasa takut saat melihat hantu".

Kata "sedih", "takut", dan emosi lainnya adalah penggambaran suasana secara literal alias kata per kata.

Lalu bagaimana kalau kita coba gambarkan suasana yang sama, tapi dengan menulis apa yang dirasakan secara fisik.

Contohnya seperti "Hatinya serasa ditusuk seribu jarum waktu setelah mendengar ucapan ibunya". Walaupun contohnya cukup hiperbola, tapi metode penggambaran ini lebih efektif dibandingkan menulis langsung seperti pada contoh pertama.

Metode ini akan terasa lebih nyata karena manusia bisa merasakan emosi dalam tingkatan berbeda-beda. Kalau kita hanya bilang "sedih" saja, ada tingkat sedih yang membuat kita merasa terpuruk dan ada juga rasa sedih yang bisa kita ikhlaskan dalam hitungan jam.

Jadi menggambarkan apa yang dirasakan secara fisik membuat pembaca bisa memahami suasana dengan lebih akurat sesuai keinginan penulis.

 

Gunakan Referensi Visual

Kalau kalian belum pernah coba menggambarkan sebuah emosi secara fisik, ada satu teknik latihan yang bisa dicoba.

Pertama, buka website referensi foto seperti Pinterest atau Google Image. Lalu tulis suasana yang mau kalian gambarkan, misalnya "putus asa", "calm", atau "merinding". Kemudian akan muncul kumpulan foto sesuai dengan kata kunci tersebut.

Sekarang coba bayangkan kalian ada di dunia foto tersebut. Atau bayangkan kalian menjadi subjek dari suasana di foto tersebut.

Apa yang kira-kira kalian rasakan? Tuliskan perasaannya di kertas kosong atau notepad terpisah dari draft karya yang asli.

Menggunakan referensi visual ini bisa membantu kita merasakan emosi baru walaupun sebelumnya belum pernah dirasakan dalam kehidupan nyata. Karena tidak semua penulis horror pernah melihat penampakan atau semacamnya.

Kalau menggunakan referensi berupa foto terlalu sulit, kalian juga bisa coba menggunakan video, musik, lagu, atau film.

 

Buat Suasana Menulis Sesuai dengan Apa yang Mau Kita Tulis

Satu hal untuk membuat penggambaran latar suasana lewat tulisan menjadi lebih nyata adalah dengan mengkondisikan suasana hati kita seperti suasana hati tokoh tersebut.

Bila kita mau menulis bagian sedih pada tokoh tertentu, khususnya tokoh utama, maka coba putar musik-musik dengan genre serupa. Atau kalian juga bisa melihat-lihat dulu potongan film, kumpulan foto, atau bentuk referensi lainnya untuk mengubah suasana hati sesuai yang diinginkan.

Tentunya akan ada hari dimana mood kita tidak sesuai dengan apa yang mau ditulis. Misalnya harus menulis argumen penuh drama padahal suasana hati kita sedang sangat senang.

Di momen seperti ini, kita cukup menyelesaikan tulisan tanpa terlalu berusaha membuat latar suasana senyata mungkin.

Nanti di lain waktu, ketika suasana hati kita sudah sesuai dengan mood tersebut, kita bisa perbaiki lagi sebelum deadline menghampiri.

 

Kombinasikan Latar Suasana dengan Latar Tempat & Waktu

Dalam unsur intrinsik cerita, ada latar-latar lain selain suasana, salah satunya adalah tempat dan waktu. Kita bisa memanfaatkan kedua latar ini untuk memperjelas atmosphere di dalam cerita.

Sebagai contoh bila mendengar latar waktu "langit cerah di siang hari" suasana apa yang kalian rasakan? Kemungkinan besar pasti suasana hari ceria.

Lalu, apa yang kalian rasakan waktu mendengar latar waktu "Langit yang gelap dan hujan deras"? Tentunya kebalikan dari ceria, yaitu sedih atau gloomy.

Nah, beberapa waktu dan tempat bisa punya kaitan erat dengan suasana hati manusia. Hal ini disebabkan karena cuaca, tempat, waktu, atau peristiwa memberi pengaruh besar terhadap mood.

Contohnya Edward Bulwer-Lytton hanya perlu menulis "It was a dark and stormy night." untuk menggambaran latar suasana sang tokoh utama dalam buku Paul Clifford.

 

Gunakan Kata-Kata yang Berhubungan dengan Atmosphere Tersebut

Terakhir, gunakan kata-kata yang identik dengan atmosphere tertentu. Contohnya seperti "dark" dan "stormy night" yang identik dengan suasana hati depresi, sedih, dan terpuruk.

Lalu ada juga "pelangi", "cerah", atau "kuning" yang lebih identik dengan suasana ceria dan menyenangkan.

Kalian bisa membuat moodboard kumpulan kata-kata yang identik dengan sebuah atmosphere sebagai latihan.

Caranya, sobek satu lembar kertas atau gunakan aplikasi notepad di HP. Lalu gunakan referensi visual yang dipakai di langkah sebelumnya. Tuliskan objek, warna, suasana, atau kata apapun yang kalian rasakan waktu melihat foto-foto tersebut.

Waktu harus menulis suasana tertentu, lihat lagi kumpulan kata-kata tadi sampai kalian bisa mengingatnya di luar kepala.

Melakukan pemanasan atau latihan kecil sebelum menulis bisa membantu kita menggambarkan latar suasana di dalam cerita jadi semakin nyata. Sebab dibandingkan kedua latar lainnya, atmosphere punya peran lebih besar karena bukan hanya membuat pembaca paham tentang apa yang terjadi tapi juga merasa empati terhadap sang tokoh.

 

Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Freelance, Content Writer, Bloger, dan Kontributor di beberapa media.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar