mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Biografi Ajip Rosidi, Sastrawan dan Penulis Paling Produktif di Indonesia

Biografi Ajip Rosidi, Sastrawan dan Penulis Paling Produktif di Indonesia

Biografi Ajip Rosidi

Kali ini Ayo Berbahasa akan menjelaskan biografi Ajip Rosidi yang merupakan seorang sastrawan kondang Indonesia, penulis sekaligus seorang yang namanya terus dikenang ialah Ajip Rosidi. Beliau merupakan seorang dosen, pendiri, dan juga redaktur di berbagai penerbit. Beliau yang mendirikan dan juga menjadi ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.

Beliau dikenal sebagai salah satu pengarang sajak serta cerpen paling produktif dengan jumlah karya mencapai 326 judul yang dimuat oleh 22 majalah. Bukan hanya itu, beliaupun seorang penulis drama, cerita rakyat, lelucon, bacaan untuk anak-anak dan masih banyak lagi.

Untuk mengenal lebih jauh, berikut ini akan kita bahas tentang biografi beliau. Pembahasan kita akan mencakup tentang riwayat pendidikan, karya-karyanya, masa kecil serta penghargaan yang pernah diperoleh. Berikut informasinya selengkapnya:

Biografi Ajip Rosidi

Ajip Rosidi merupakan sastrawan yang memiliki segudang kemampuan, beliau juga seorang pengarang yang produktif. Beliau dilahirkan di Jatiwangi, Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 31 Januari 1938. Saat usia Ajip menginjak 17 tahun beliau menikah dengan seorang wanita bernama Patimah pada tanggal 6 Agustus tahun 1955.

Di tahun 1967 sampai 1970, beliau didakwa layak menjadi seorang dosen luar biasa Universitas Padjadjaran di Fakultas Sastra. Lalu, sebab beliau memiliki pengaruh dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan pada tahun 1981, Ajip mendapat penghormatan menjadi guru besar tamu di Universitas Bahasa Asing Osaka.

Sejak itu, beliau mendapat tugas untuk mengajarkan ilmu yang dikuasi di Tenri Daigaku pada tahun 1982 hingga 1994. Beliau pun mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku pada tahun 1982 hingga 1996.
Kecerdasan beliau dalam dunia sastra memang telah nampak sejak usia 12 tahun, dimana beliau masih kelas VI di Sekolah Rakyat.

Saat itu tulisan Ajip sudah mendapat tempat dan dimuat di harian Indonesia Raya dalam ruang anak-anak. Lalu saat SMP, beliau bahkan telah telah serius mendalami dunia penulisan serta penerbitan.

Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Indonesia, Jawa serta Sunda, beberapa karyanya bahkan mendapat perhatian khusus karena diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Karyanya pun diterbitkan menjadi buku, baik itu ke dalam bahasa Jepang, Belanda, Inggris, Cina, Perancis dan masih banyak lagi.

Beliau pun dikenal menjadi sosok yang telah membawa budaya Sunda di pentas internasional. Beliau telah mengharumkan nama Indonesia. Artinya bahwa Ajip Rosidi bukan hanya sekedar seorang sastrawan, akan tetapi merangkap sebagai duta Indonesia.

Baca juga : biografi Umar Kayam

1. Masa Kecil

Saat Ajip Rosidi berusia 2 tahun, orang tuanya memutuskan untuk berpisah, setelah itu akhirnya beliau dirawat oleh neneknya. Lalu beliau diasuh oleh paman dari pihak bapaknya yang tinggal di daerah Jakarta. Nah pada saat itulah Ajip merasakan kehidupan yang begitu sederhana, barangkali bisa dikatakan kekurangan.

Akan tetapi, itu menjadikan Ajip terus bersemangat, beliau menganggap itu sebagai cambuk bagi dirinya untuk dapat menaikkan level hidupnya. Singkatnya, kemudian beliau berhasil untuk menggapai kariernya dalam bidang seni sastra. Satra yang dia tekuni termasuk sastra Indonesia dan juga sastra Sunda

Beliau merupakan tokoh di berbagai bidang. Saat memperoleh puncak karirnya, beliau masih diusia muda jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh terkenal lain dalam bidang sastra. Bayangkan pada pada umur 12 tahun saja, karya-karya tulisan Ajip sudah terbit di harian Indonesia Raya dalam ruang anak-anak pada. Itu merupakan masa kecil yang sangat produktif.

Lalu sejak SMP beliau telah menggeluti dunia penerbitan serta penulisan. Beliau juga yang menerbitkan serta pemimpin majalah Suluh Pelajar pada tahun 1953-1955 sekaligus menjadi editor. Beliau pun dipercaya menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda pada tahun 1965 hingga 1967.

Dari riwayat hidup saat beliau masih kecil, hal itu sangat memberikan pelajaran kepada semua orang tentang arti berjuang. Kesuksesan yang telah diraih oleh Ajip Rosidi tidak lepas dari pengaruh masa lalunya. Kenyataan pahit yang pernah beliau rasakan menjadi cambuk kecil untuk terus mengejar apa yang beliau cita-citakan.


2. Riwayat Pendidikan

Satrawan yang memiliki segudang karya ini, Ajip Rosidi, memulai masa pendidikan pada tahun 1950 di Sekolah Rakyat Jatiwangi. Beliau meneruskan ke Sekolah Menengah Pertama pada tahun 1953 di sekolah Negeri VIII Jakarta. Pendidikan terakhirnya ialah pada tahun 1956 di Taman Madya, Taman Siswa Jakarta.

Beliau memang tidak menyelesaikan sekolah menengahnya, akan tetapi beliau mendapat penghormatan untuk mengajar menjadi seorang dosen. Tercatat beliau pernah mengajar di perguruan tinggi Indonesia serta mengajar di Jepang mulai tahun 1967. Hal itupun dianggap sebagai prestasi besar beliau

Ajip juga memperoleh gelar Doktor honoris causa pada bidang Ilmu Budaya di Universitas Padjadjaran dari Fakultas Sastra pada tanggal 31 Januari 2011.


3. Karir Sang Maestro

Di usia Ajip menginjak 17 tahun, beliau telah dipercaya menjadi redaktur majalah Prosa. Dan di tahun 1964 hingga 1970 beliau menjabat sebagai redaktur penerbit di Tjupumanik. Tahun 1968 hingga 1979 beliau juga menjadi seorang redaktur Budaya Jaya. Beliau juga pernah menjadi seorang dosen Universitas Padjadjaran pada tahun 1967.

Serta pada tahun 1965 hingga 1968 beliau diberikan jabatan sebagai Direktur Penerbit Duta Rakyat. Beliau merupakan orang yang tidak lepas dari pekerjaan, pada tahun 1971 sampai 1981 saja beliau menjadi ketua Penerbit Dunia Pustaka Jaya. Bukan hanya itu, pada tahun 1973 hingga 1979 beliau pun menjadi ketua Ikatan Penerbit Indonesia.

Ajip Rosisdi pernah terpilih mejadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1973 hingga 1981. Pada tahun 1978 hingga 1980 beliau pernah memperoleh kesempatan menjadi anggota staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 1980an sesudah lama mendalami dunia seni serta penerbitan di Indonesia, Ajip merantau ke negeri Jepang. Beliau pun kemudian diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku. Beliau pun menjadi guru besar luar biasa di Kyoto Sangyo Daigakuyang berada di Tenri Daigaku.

Beliau juga sejak tahun 1989 memberikan Hadiah Sastra Rancage untuk sastrawan ataupun budayawan daerah yang memiliki jasa. Beliau menghargai para tokoh yang meiliki peran terhadap bidang sastra serta budaya daerah, terkhusus budaya Sunda dan Jawa. Pada tahun 2001 Ajip telah selesai menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda bersama dengan sastrawan serta budayawan Sunda.

Karir Ajip Rosidi ini di bidang sastra sebenarnya telah dimulai sejak beliau masih sekolah di sekolah dasar. Di kelas enam SD saja belaiau telah menulis serta mendapat tempat di surat kabar Indonesia Raya. Tentunya itu sebuah prestasi yang luar biasa.

Dan saat Ajip berusia 14 tahun, karya-karya yang telah beliau buat berhasil masuk ke majalah Mimbar Indonesia, Gelanggang, Siasat dan lain sebagainya. Prestasinya dalam dunia sastra memang tidak bisa diragukan lagi, jadi wajar beliau telah mendapatkan banyak penghargaan dalam hidupnya.

Dari perjalan karir beliau terlihat jika beliau adalah orang yang bersahaja, terbukti dengan berbagai pekerjaannya mulai dari seoarng penulis, sastrawan hingga menjadi redaktur. Karenanya selain sebagai tokoh yang terkemuka, beliau juga bisa dianggap sebagai maestro di bidang sastra.


4. Menikah

Pernikahan Ajip Rosidi
Sumber gambar : liputan6.com
Pada hari Minggu tanggal 16 April 2017 Ajip Rosidi telah resmi menikah dengan seorang aktris Nani Wijaya. Pernikahn mereka dilkasakan di Masjid Agung Sang Ciptarasa Jawa Barat. Beliau menikah setelah usianya masuk 79 tahun.

Alasan yang diungkapakan dari pernikahan mereka ialah karena saling membutuhkan teman. Itulah yang diajarkan Ajip Rosidi, walaupun tidak berusia muda lagi namun tetap saja mencintai bukan hal yang dilarang. Saat itu juga sebenarnya Nani Wijaya telah berusia 72 tahun, keduanya telah memasuki usia senja.

5. Karya

Pada awalnya Ajip menulis karya dengan menggunakan bahasa Indonesia, kemudian komentar tentang sastra, budaya serta bahasa dan juga telaah. Karyanya termuat dalam bentuk buku, artikel, ataupun makalah serta dibiacrakan di berbagai level hingga internasional.

Ia juga menyampaikan tentang politik susuai pandangannya serta banyak melacak jejak tentang perkembangan sejarah sastra Indonesia dan juga Sunda. Tidak ketinggalan beliau pun menulis tentang biografi tokoh politik serta seniman.

Pada tahun 1952 beliau mulai mengumumkan karya tulisannya, kemudian karyanya mendapat tempat dalam majalah-majalah ternama.  Saat itu media majalah yang terkemuka ialah, antara lain Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah dan lain sebagainya.

Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz, Ajip Rosidi merupakan pengarang paling produktif dalam katagori sajak dan cerita pendek hingga tahun 1983. Tercatat karnya telah mencapai 326 judul serta mendapat tempat di 22 majalah).

Tahun-tahun Kematian adalah buku pertamanya yang terbit saat beliau menginjak usia 17 tahun. Kemudia diikuti oleh kumpulan cerpen serta sajak, drama, roman, serta kritik dan masih banyak lagi karyanya lebih dari seratus judul. Karya-karyanya telah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Karya dari Ajip Rosidi antara lain yang berupa puisi, pertama ialah Ketemu di Djalan bersama Sobron Aidit serta S.M. Ardan yang terbit pada tahun 1956. Kedua berjudul Pesta yang diterbitkan oleh Pembangunan pada tahun 1956. Ada juga karyanya berjudul Tjari Muatan pada tahun 1959 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Karya-karya puisinya begitu banyak, termasuk juga puisi berjudul Surat Tjinta Endaj Rasidin pada tahun 1960 yang diterbitkan oleh Pembangunan. Selanjutnya ialah Djeram terbit tahun 1970 dan juga Ular dan Kabut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1973.

Karya puisi Ajip yang lain ialah, Sajak-Sajak Anak Matahari terbit tahun 1979, Di Tengah Keluarga terbit tahun 1956 serta puisi yang berjudul Nama dan Makna pada 1988. Selain yang telah disebutkan tadi masih ada banyak karya Ajip Rosidi.

Beliau pun telah menerjemahkan karya-karya ke dalam bahasa Indonesia dari pengarang Yasunari Kawabata, Jepang. Antara lain terjemahaannya ialah Penari-Penari Jepang yang diterbitkan oleh Jambatan pada tahun 1985 serta Negeri Salju terbit pada tahun 1987.

Selain hal itu, ternyata Ajip Rosidi juga menyadur karya-karya, seperti Lutung Kasarung yang judulnya diganti menjadi Purbasari Aju Wangi pada tahun 1962.  Ada juga Mundinglaja di Kusumah yaitu Cerita Pantun Sunda terbit pada tahun 1961. Lalu yang berjudul Sangkuriang Kesiangan pada tahun 1961.

Ajip Rosidi juga menulis karya yang berupa esai serta kritik sastra, diantanya ialahb Cerita Pendek Indonesia diterbitkan oleh Jambatan pada tahun 1959. Kedua, Kesusastraan Sunda Dewasa Ini yang terbit pada tahun 1963. Ketiga berjudul Kesusastraan Sunda Dewasa Ini terbit pada tahun 1966 serta masih banyak lagi lainnya.

Dengan begitu banyaknya karya beliau maka pantaslah menjadi tokoh terkemuka di Indonesia dalam bidang sastra. Karya-karyanya masih terus dibaca hingga sekarang dan beliau telah menjadi maenstro dalam bidangnya.


6. Penghargaan

Sebagaimana diketahui jika Ajip Rosidi menulis puisi, novel, cerita pendek, kritik, drama, terjemahan, saduran, buku, esai. Tulisannya memiliki kaitan terhadap bidang ilmu yang beliau kuasai, baik ditulis dalam bahasa Indonesia ataupun daerah.

Adapun tentang penghargaan, beliau telah banyak memperolehnya. Misalnya kumpulan puisi beliau yang berjudul Pesta mendapatkan penghargaan Sastra Nasional BMKN. Bukan hanya itu, kumpulan cerpen Ajip pun dengan judul Sebuah Rumah buat Hari Tua memperoleh hadiah yang sama. Dan juga beliau memperoleh penghargaan untuk sajak-sajak beliau tulis pada tahun 1955 hingga 1956 pada Kongres Kebudayaan di 1957.

Beliau juga memperoleh penghargaan pada tahun 1960 dalam Kongres Kebudayaan yang diselengarakan di Bandung. Di sana beliau memperoleh Hadiah Sastra Nasional pada kumpulan cerpen yang dia tulis judul  Sebuah Rumah Buat Hari Tua

Pada tahun 1975 juga beliau memperoleh Cultural Award dari Pemerintah Australia. Beliau pun pada tahun 1993 memperoleh Hadiah Seni dari Pemerintah Indonesia.  Bukan hanya itu, beliau juga terpilih pada tahun 1994, menjadi salah seorang Putra Sunda yang menjadi kebanggaan daerahnya.

Serta beberapa sahabat-sahabatnya di Bandung membuat peringatan yang bertema Ajip Rosidi 50 Tahun pada tahun 1988 dengan menerbitkan sebuah buku Ajip Rosidi Satengah Abad. selain itu beliau memperoleh penghargaan Kun Santo Zui Hoo Shoo dari pemerintah Jepang pada tahun 1999.

Prestasi Ajip terus berlanjut, hingga di tahun 2003 beliau mendapatakan penghargaan Mastera dari Brunei Darussalam. Tercatat Ajip Rosidi pun memperoleh Professor Teeuw Award pada tahun 2004 dari Belanda.

Pada tahun selanjutnya di Bandung, Paguyuban Panglawungan Sastera Sunda (PPSS) mengadakan sebuah acara. Acara tersebut ialah dramatisasi, musikalisasi puisi, serta mendiskusikan sebuah buku Ayang-ayang Gung sebagai peringatan 67 Ajip Rosidi. Beliau pun memperoleh penghargaan Anugrah Budaya Kota Bandung pada tahun 2007

Beliau pun pernah memperoleh Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk banyak sumbangan positif yang dilakukan di bidang sastra serta budaya bagi masyarakat Indonesia. Wajar memang beliau mendapatkan segudang penghargaan sebab karya-karyanya telah banyak serta menjadi yang paling produktif.


7. Masa Pensiun

Sesudah Ajip Rosidi pension, beliau kini tinggal di sebuah desa di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Walaupun demikian, beliau masih saja mengurus beberapa lembaga nonprofit. Lembaga tersebut ialah Pusat Studi Sunda serta Yayasan Kebudayaan Rancagé.

Beberapa sastrawan yang menghargai apa yang telah Ajip lakukan selama ini dengan menuangkan apresiasi ke dalam sebuah buku. Buku yang khusus untuk didedikasikan kepada Ajib Rosidi ini berjudul ‘Jejak Langkah Urang Sunda 70 Tahun Ajip Rosidi’.

Begitulah jika seorang yang memiliki karya-karya yang luar biasa, orang-orang akan mengenang hal itu sebagai nama besarnya. Ajip Rosidi telah mengajarkan kita tentang arti dari kehidupan, bahwa yang orang kenang itu karya kita.

Kisah Tokoh Lainnya : Subagio Sastrowardoyo

Demikianlah artikel tentang Biografi Ajip Rosidi, sang penulis serta budayawan Indonesia yang paling produktif. Artikel ini bukan dimaksudkan hanya untuk dibaca, tetapi diharapkan mampu memberikan dampak positif kepada semua.

Jika anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan untuk membagikan linknya kepada teman dan keluarga. Semoga bermanfaat untuk para pembaca semua, terimakasih!
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Gemar menulis dan bermimpi menjadi penulis profesional.

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Post a Comment