mrYCfYjK1mkwe3u9JafYzq9EkkxKwu39tilpSSGm
Biografi N.H. Dini, Novelis Wanita Indonesia Angkatan 66

Biografi N.H. Dini, Novelis Wanita Indonesia Angkatan 66

Biografi N.H. Dini

NH Dini merupakan seorang novelis, sastrawan, dan feminis berkebangsaan Indonesia. Beliau menjadi bagian dari penulis Angkatan 66 dan telah melahirkan tak kurang dari 40 judul buku.

Melalui konten ini, Ayo Berbahasa akan memberikan informasi mengenai biografi N.H. Dini, dan juga kisah singkat perjalanan hidupnya yang telah diolah dari berbagai sumber. Berikut biografi selengkapnya :

Biografi N.H. Dini

N.H. Dini atau yang memiliki nama lengkap Nurhayati Sri Hardini merupakan seorang penulis /pengarang wanita yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Beliau telah wafat pada tanggal 4 Desember 2018 pada usia ke 82 tahun.

Beliau sebenarnya merupakan penulis semua genre sastra, baik itu cerpen, novel, puisi, ataupun yang lainnya. Akan tetapi N.H. Dini lebih terkenal sebagai seorang novelis dimana karya-karyanya kebanyakan menggunakan latar luar Indonesia.


1. Keluarga

Sumber gambar : kompas

N.H. Dini merupakan putri bungsu dari pasangan Salyowijiyo, yang merupakan seorang pegawai perusahaan kereta api, dan Kusaminah yang merupakan seorang pembatik. Dini memang bersuku Jawa, namun juga berdarah Bugis.

Nurhayati Sri Hardini mempunyai 4 orang kakak yaitu Heratih, Mohamad Nugroho, Siti Maryam, dan Teguh Asmar. Beliau dan Teguh Asmar begitu dekat karena merupakan sama-sama seorang seniman.

N.H. menikah dengan seorang diplomat Perancis, Yves Coffin pada tahun 1960 dan dikaruniai 2 orang anak yaitu Pierre Louis Padang dan Marie Claire Lintang. Namun sayangnya, pernikahan mereka berdua tidak bertahan lama dan harus bercerai

Biografi pengarang : Hasiboean Soeman

2. Masa Kecil

Sejak kelas 3 SD, N.H. Dini memang sudah mulai terlihat sejak sekolah dasar. Bahkan Sang Ayah, selalu menyediakan buku bacaan bagi putri bungsunya tersebut. Dan sejak saat itu juga, N.H. selalu rutin mengisi majalah dinding di sekolahnya.

Sejak SMP, Dini sudah kehilangan sosok Ayah yang selama ini sudah membesarkannya. Sejak saat itu, Dini sering terlihat melamun dan sering mencurahkan kegelisahannya melalui tulisan-tulisannya.

Beliau tidak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi karena sata usianya menginjak tiga belas tahun, ayahnya meninggal dunia. Namun hal tersebut tidak menghalangi keinginan untuk terus mencari ilmu dimana saja.

Seperti saat N.H. Dini mengikuti pendidikan untuk menjadi pegawai GIA dan juga mengikuti Kursus B-1 Sejarah dan bahasa asing pada tahun 1957 di Semarang. Sebenarnya beliau awalnya bercita-cita sebagai seorang masinis, hanya saja karena tidak menemukan sekolah untuk masinis akhirnya beliau mengurungkannya.

Dini menulis sajak dan prosa berirama serta membacakannya sendiri di RRI Semarang saat usianya masih 15 tahun. kala itu Dini rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Semarang dalam acara Tunas Mekar. Bahkan cerpen pertamanya, Pendurhaka mendapatkan kritis positif dari H.B. Jassin tahun 1951.

3. Pendidikan

N.H. Dini mulai bersekolah SD sejak 1950 di salah satu sekolah di Semarang, Jawa Timur. Setelah lulus SD beliau melanjutkan studi masih di kota Semarang dari SMP hingga lulus SMA.

Tak hanya menempuh pendidikan formal, Dini juga pernah menempuh pendidikan non formal pada saat kecil. Yakni dengan mengikuti pramugari GIA di Jakarta tahun 1956 dan kursus B 1, Sejarah, dari tahun 1957 hingga 1959.


4. Karir

Sembari mengikuti kursus di GIA (Garuda Indonesia Airways) Dini juga menjadi pramugari Garuda Airways yang harus siap terbang kapan saja. Pengalamannya di bidang dirgantara membuat wawasannya juga semakin bertambah.

Bahkan dari pengalamannya tersebut, N.H. Dini pernah menulis karya Hati jang Damai yang menceritakan tentang dunia penerbangan, khususnya penerbangan kemiliteran. Selain menjadi pramugari, beliau juga pernah menjadi anggota Forum Komunikasi Generasi Muda Keluarga Berencana dan anggota Forum Wahana Lingkungan Hidup.


5. Karya

Sepanjang hidupnya, Nurhayati Sri Hardini telah membuat lebih dari 30 karya. Baik itu puisi, cerpen, novel, maupun yang lainnya. Berkat karya-karya yang telah diciptakannya, Dini dianggap sebagai sebagai pelopor suara perempuan pada medio 1960 sampai 1980-an. Beberapa karyanya yang paling terkenal antara lain :

  • Dua Dunia, (kumpulan cerita pendek)
  • Pertemuan Dua Hati
  • Keberangkatan
  • La Barka
  • Langit dan Bumi Sahabat Kami
  • Namaku Hiroko
  • Argenteuil
  • Pada Sebuah Kapal
  • Hati yang Damai
  • Padang Ilalang di Belakang Rumah
  • Sekayu
  • Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang


6. Penghargaan

Sang pejuang feminis ini pernah mendapatkan penghargaan Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1989. Selain itu, N.H. Dini juga pernah mendapatkan penghargaan Bhakti Upapradana Bidang sastra dari Pemerintah daerah Jawa Tengah pada tahun 1991. Selain kedua penghargaan tersebut, penghargaan lain yang pernah didapatkannya yaitu :

  • Hadiah Francophonie (2008)
  • Achmad Bakrie Award bidang Sastra (2011)
  • Lifetime Achievement Ubud Writers and Readers Festival (2017)

7. Wafat

N.H. Dini wafat pada usia ke 82 tahun akibat kecelakaan di Tol Tembalang KM 10, Semarang. Beliau sempat dirawat di RS Elizabeth namun nyawa dari penulis cerpen Dunia Dunia ini tak dapat tertolong lagi. Jenazahnya dikremasikan di Ambarawa pada tanggal 5 Desember 2018.

Biografi Tokoh Lainnya : Sanusi Pane & Armijn Pane.

Demikian sedikit pembahasan mengenai biografi N.H. Dini, seorang novelis dengan perjalanan dan kisah hidup yang luar biasa. Sekian dan jangan lupa bagikan konten ini bila dirasa bermanfaat ya, terima kasih.
Baca Juga Materi Berikut Ini
SHARE
Firdaus Deni Febriansyah
Dengan menulis, ada banyak hal yang bisa kita bagikan

Konten Terkait

Berlangganan Konten Terbaru Via Surel. Gratis!

Posting Komentar